Anies Minta Kegiatan Kantor Disetop, Ini Respons Dunia Usaha

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 22 Mar 2020 09:05 WIB
Jumlah pasokan ruang perkantoran di wilayah DKI Jakarta terus bertambah. Hal ini karena semakin banyaknya gedung perkantoran yang sedang dibangun.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meminta seluruh perkantoran di Jakarta ditutup sementara waktu, dan membuat semua pekerjaan dilakukan dari rumah alias work from home. Hal ini dilakukan Anies untuk menekan penyebaran virus corona yang makin banyak di Jakarta.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan keputusan menutup kantor dan mempekerjakan karyawan dari rumah cukup berat dilakukan. Namun, dia mengatakan kalangan pengusaha akan siap melakukan hal ini.

"Kalau kita dari dunia usaha memang ini sesuatu yang berat, tapi tetap kan yang diminta keselamatan warga dan orang banyak. Dan harus dimulai masing-masing, yaitu keselamatan karyawan kita, maka harus mengurangi interaksi dalam rangka mempersempit penyebaran virus ini," ungkap Sarman kepada detikcom, Sabtu (21/3/2020).

"Tapi kami akan ikuti lakukan ini walaupun berat," sambungnya.

Dia menjelaskan bahwa kinerja karyawan akan menurun apabila pekerjaan dilakukan dari rumah. Menurutnya bekerja 100% di kantor sangat optimal.

"Ya yang jelas gini, kalau perusahaan kan efektifnya operasional 100% di kantor. Kalau kerja dari rumah kan koordinasi butuh waktu, dikhawatirkan pelayanan ke customer bisa nggak maksimal juga. Sudah pasti produktivitas menurun," kata Sarman.

Anies Minta Kegiatan Kantor Disetop, Ini Respons Dunia Usaha

Sarman menyebut bahwa pengusaha sendiri sudah mulai memberikan kebijakan work from home selama minggu ini. Dia menyebut setidaknya rata-rata 60% karyawan di suatu perusahaan sudah bekerja dari rumah.

"Iya jadi itu memang dari Senin kemarin juga sudah menerapkan. Katakan lah di Sudirman, rata-rata perusahaan juga sudah berkurang 60% karyawan yang bekerja ke kantor," sebut Sarman.

Dengan adanya surat edaran yang diterbitkan Anies, Sarman menjelaskan kemungkinan jumlah karyawan yang bekerja di rumah akan ditambahkan. Bisa jadi 70-80% karyawan bekerja dari rumah Senin besok.

"Apalagi dengan penegasan ini, mungkin hari Senin depan akan bertambah. Mungkin bisa antara 70-80% karyawan kami akan lakukan WFH, sisa yang masuk akan kami atur untuk seminimal mungkin bekerja," kata Sarman.

Namun tak semua pegawai ikut bekerja di rumah, mulai dari pegawai jasa pengiriman barang hingga toko ritel masih belum bekerja di rumah. Apa alasannya?

Perusahaan Jasa pengiriman barang tetap mempekerjakan petugas lapangan yang melayani konsumen, mulai dari customer service, kurir, hingga driver.

"Beberapa bagian kita yang jadi petugas pelayanan lapangan yang bertemu langsung dengan konsumen kami tetap berjalan. Mulai dari CS, kurir, driver, ini tetap berjalan," ujar Ketua DPP Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, POS dan Logistik Indonesia (Asperindo) Mohamad Feriadi kepada detikcom.

Meski begitu pihaknya tetap mengeluarkan kebijakan kerja dari rumah untuk beberapa bagian yang berhubungan dengan internal perusahaan. Mulai dari keuangan hingga bagian penjualan.

"Sebagian kami juga lakukan instruksi pak Gubernur, beberapa divisi kami berlakukan kerja dari rumah. Biasanya internal, kayak keuangan, personalia, atau sales, dan beberapa lainnya, mereka kerja di rumah ya," kata Feriadi yang juga merupakan Presiden Direktur JNE Express ini.

Sementara itu, pengusaha ritel sendiri mengatakan akan tetap mempekerjakan karyawan di toko-toko. Hal ini dilakukan untuk tetap bisa melayani kebutuhan pokok masyarakat.

"Untuk bidang operasional di toko ritel semuanya kami normal. Kami tetap membuka karena kami harus pastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi," kata Ketum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey kepada detikcom.

Di sisi lain, bagi pegawai perusahaan toko ritel yang bisa melakukan pekerjaan di rumah dengan modal internet, Roy mengatakan diperbolehkan bekerja dari rumah.

"Untuk administrasi dan pekerjaan staffing di kantor pusat dan cabang yang berhubungan masalah monitor dan pekerjaan yang bisa dilakukan internet kami terapkan work from home," ungkap Roy.

"Pokoknya yang berhubungan dengan monitoring, administrasi, accounting, ini akan kita lakukan di rumah agar penyebaran covid makin berkurang," sambungnya.

Virus corona sendiri masih mengintai para pekerja, lalu apa yang dilakukan perusahaan?

Meski masih menugaskan pekerjanya di tengah wabah corona, pengusaha toko ritel diminta membuat standar operasional. Salah satunya adalah memberikan jarak antara kasir dengan pembeli.

"Kami pun melakukan protap covid 19, hal ini juga untuk meminimalisir penyebaran virus meski kita buka toko. Misalnya, bayar di kasir harus jarak 1 meter, kita kasih tanda batasnya di lantai," jelas Roy.

Para pekerja yang bertugas di toko ritel diberikan juga harus dilengkapi masker dan sarung tangan karet. Dia juga mengatakan semua yang masuk toko akan dicek temperatur tubuhnya terlebih dahulu.

"Kemudian tenaga kasir dan yang ada di toko kita wajibkan dan sediakan memakai masker dan sarung tangan karet. Ada juga kita wajibkan semua orang yang mau masuk dicek dulu pakai thermo gun, itu protap kita," kata Roy.

Tak jauh berbeda, Feriadi mengatakan perusahaan jasa pengiriman telah memberikan sederet perlengkapan untuk menangkal corona.

"Mereka akan kami berikan perlengkapan seperti masker, sarung tangan, dan hand sanitizer. Hal ini juga sebagai langkah memberikan kepercayaan kepada konsumen bahwa kami menjaga pekerja dari virus," sebut Feriadi.

Feriadi juga mengatakan pihaknya melakukan pengecekan suhu tubuh pada setiap petugasnya yang akan menuju lapangan. Dia juga mengatakan telah memberikan para petugasnya vitamin untuk menjaga daya tubuh.

"Kami juga terus cek suhunya setiap mau berjalan ke lapangan, kami pun berikan vitamin E dan C juga agar jaga kesehatan mereka," pungkas Feriadi.

Sementara itu, menurut Sarman bagi pegawai yang tidak kerja di rumah para pengusaha akan memangkas waktu jam kerjanya. Selain itu jumlah pekerja dan intensitas pekerjaannya pun akan dikurangi.

"Lalu jam kerja juga kami kurangi. Mungkin tadinya pulang sore jam 5 atau jam 6, jadi pulang jam 2 atau jam 3. Pasti ada divisi yang tetap masuk, cuma tingkat pekerjaan dan jumlah pekerjanya akan kami kurangi," kata Sarman.

(eds/eds)