Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 24 Mar 2020 21:45 WIB

RI Minta Bantuan IMF hingga Bank Dunia Benahi APBN Kalau...

Hendra Kusuma - detikFinance
Pertumbuhan Ekonomi RI Foto: Zaki Alfarabi/Infografis
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku akan melakukan APBN-Perubahan lantaran indikator makro ekonomi nasional banyak yang melebar dari target akibat penyebaran virus corona (COVID-19).

Salah satu indikator APBN-Perubahan juga melebarnya defisit anggaran dari batas yang telah ditetapkan dalam UU Keuangan Negara. Batas defisit anggaran sendiri sebesar 3% terhadap PDB, namun akibat COVID-19 diperkirakan berada di atas 3%.

Sehingga, kata Sri Mulyani pemerintah akan mencari sumber pembiayaan akibat melebarnya defisit dengan banyak opsi.

"Nah dari sisi pembiayaan, kita gunakan seluruh sumber pembiayaan konvensional maupun kemungkinan terjadinya sumber non konvensional yang butuh landasan hukum baru. Termasuk dalam kajian kita, termasuk yang kami sampaikan ke Presiden, yakni gimana bisa meningkatkan respons kita dalam membuat surat berharga dari pemerintah alami tekanan," kata Sri Mulyani saat video confrence, Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Badan anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merekomendasikan pemerintah bisa melebarkan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2020 sampai 5% dari yang saat ini maksimal 3%.

Salah satu pembiayaan yang bisa diambil pemerintah bisa berasal dari multilateral, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengaku sudah berkonsultasi dengan Bank Dunia (WB), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Asian Development Bank (ADB).

Sri Mulyani bilang konsultasi itu untuk mendapatkan skema pembiayaan yang tidak merugikan ekonomi nasional ke depannya.

"Kemarin sudah bicara dengan Presiden ADB, World Bank, IMF untuk melihat mana financing terbaik agar Indonesia bisa respons dengan biaya sekecil mungkin dan risiko kecil. Bilateral juga ditingkatkan, baik dari negara yang selama ini mendukung maupun kita melihat negara lain gimana atasi financing deficit yang besar," katanya.

"Kita buka seluruhnya apakah lelang reguler lewat private atau sumber lain. BI lakukan pembiayaan SBN di bawah 12 bulan. Itu opsi semua kita buka supaya pemerintah punya pilihan apabila defisit meningkat, maka kita memiliki sumber pembiayaan yang aman," ungkapnya.

Perlu diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengindikasikan dampak penyebaran virus corona (Covid-19) ditambah ketidakpastian global membuat tekor alias defisit APBN melebar ke level 2,2-2,5% dari target yang ditetapkan sebesar 1,76%.

Hal itu juga sudah dilaporkan Sri Mulyani kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat rapat terbatas (ratas) mengenai kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun 2021 dan rencana kerja tahun 2021.

"APBN di 2020 memang akan defisitnya meningkat, saat ini kita mengindikasikan defisit itu ada di dalam kisaran antara 2,2% hingga 2,5%. Namun kita akan lihat nanti dari sisi penerimaan dan dari sisi belanjanya," kata Sri Mulyani di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2020).



Simak Video "Ditegur Jokowi, Ini Penjelasan Sri Mulyani Soal Defisit APBN Melebar"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com