Sri Mulyani Beberkan Upaya Tangkal Efek Ngeri Corona ke Ekonomi

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 24 Mar 2020 22:15 WIB
sri mulyani
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan seluruh negara khawatir krisis kesehatan akibat virus corona (COVID-19) membuat ekonomi dunia ikut krisis.

Menurut Sri Mulyani seluruh negara sudah menyiapkan kebijakan fiskal, moneter, dan lainnya guna mempertahankan ekonomi agar tidak krisis.

"Yang sedang diupayakan jangan sampai krisis kesehatan mempengaruhi sangat dalam pada krisis ekonomi, sosial dan keuangan. Jadi semua negara mencoba untuk constrain, menjaga agar krisis di bidang kesehatan dan kemanusiaan ini tidak kemudian menimbulkan spill over ke krisis ekonomi," kata Sri Mulyani saat video conference, Jakarta, Selasa (24/3/2020).

Sri Mulyani mengatakan kondisi ekonomi saat ini mengalami kontraksi yang besar, namun kontraksi tersebut bukan berarti krisis. Oleh karena itu kebijakan-kebijakan masing-masing negara di dunia diharapkan bisa menjaga laju perekonomian dunia.

"Ekonomi kontraksi tapi tidak berarti krisis. Ini yang sedang dilakukan. Agar krisis ini tidak timbulkan spill over ke krisis ekonomi sosial dan terutama di sektor keuangan seperti yang terjadi di 2008-2009 di mana bank-bank dan lembaga keuangan bangkrut," katanya.

Lebih lanjut Sri Mulyani mengungkapkan negara anggota G20 maupun non anggota sedang fokus menanggulangi krisis kesehatan. Bahkan, untuk anggota G20 sepakat untuk menggabungkan masing-masing kemampuannya untuk menangani pandemi corona.

"Makanya pertemuan emergency di tingkat leaders sangat penting. Ini persis tahun 2009 pada saat Presiden Bush mengundang emergency meeting di Washington. Persis situasinya. Cuma dulu trigger-nya krisis keuangan spill over ke ekonomi dan masyarakat, sekarang trigger-nya sektor kesehatan dan keamanan masyarakat bisa masuk ke sektor ekonomi dan diharapkan tidak masuk ke krisis selanjutnya," ungkap Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.



Simak Video "Pemerintah Beri Rp 11,5 T di 7 BPD untuk Pemulihan Ekonomi Daerah"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)