Petani Pusing Pesanan Hasil Panen Seret Gara-gara Corona

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 26 Mar 2020 16:05 WIB
Kekeringan jadi salah satu problem yang harus dihadapi para petani saat memasuki musim kemarau. Tak terkecuali petani sayur di utara Jakarta.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama

Ade menuturkan, biasanya dalam sehari satu komoditas contohnya kentang bisa dipanen 4-10 ton dan langsung dipasok ke Pasar Caringin. Akibat tekanan virus ini, hasil panen yang terjual hanya 2-3 ton per hari.

"Kalau untuk sayuran, di sini yg paling banyak ditanam berhubung di dataran tinggi kebanyakan kentang, tomat, kol, sawi, labu siam, sama wortel. Biasanya 4-10 ton kiriman satu hari sekali. Karena kita mengumpulkan dari beberapa petani. Saya kan salah satu mitra tani juga, jadi kita mengumpulkan hasil tani bersama-sama baru nanti kita kirim. Sekarang jadi 2-3 ton per hari. Jadi sebagian nggak terjual," terang Ade.

Ade menuturkan, ketika pertama kali kabar virus corona merambah Indonesia, yakni di awal Maret 2020 lalu, harga sawi sempat anjlok. Hal tersebut membuat petani tak menjualnya dan menjadi busuk. Meski saat ini harga sayur dan buah-buahan meningkat, akan tetapi dari jumlah tonase penjualannya sangat menurun.

"Kalau yang sampai busuk banget sebelum-sebelumnya ada. Semenjak isu pertama corona di Indonesia itu harga sawi sampai Rp 400. Kalau sekarang kan sudah Rp 5.000-6.000-an. Itu sempat nggak kejual kan busuk, tapi sekarang kebantu harganya. Tapi untuk tonase jadi sedikit," imbuh dia.


Ia pun mengungkapkan, petani di dua kecamatan tersebut selama ini mendistribusikan hasil panennya secara mandiri. Meski diterpa bencana corona ini, pihaknya tak juga memperoleh bantuan distribusi dari pemerintah.

"Kebetulan di tempat kami tidak ada bantuan itu. Tidak ada bantuan distribusi online, jadi kita distribusinya secara mandiri," urainya.

Halaman


Simak Video "Bertambah 4.071, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 252.923"
[Gambas:Video 20detik]

(hns/hns)