Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 26 Mar 2020 21:54 WIB

KKP Selamatkan Pembudidaya Ikan di Tengah Corona Lewat Program Ini

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Sungai Kotor jadi Tempat Budidaya Ikan Ilustrasi/Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan kondisi ekonomi UMKM perikanan budidaya tetap stabil di tengah wabah Covid-19. Salah satu caranya yakni dengan memastikan program Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) yang diklaim dapat memberikan dampak positif bagi perbaikan nilai tukar usaha pembudidaya ikan, khususnya skala kecil.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menegaskan KKP akan memastikan pembudidaya skala kecil yang jumlahnya mencapai 80% dapat tetap berusaha di tengah ketidakpastian wabah Covid-19.

"Instruksi Presiden jelas, bahwa setiap Kementerian harus melakukan refocusing program yang secara langsung menjamin daya beli masyarakat tetap terjaga. Kami terjemahkan instruksi tersebut untuk fokus mendorong program yang memberikan efek langsung bagi terciptanya efisiensi produksi. Dengan demikian, nilai tambah tetap didapat dan pada akhirnya daya beli tetap terjaga," tegas Slamet dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3/2020).

Ia juga menyinggung permasalahan naiknya biaya produksi di kalangan pembudidaya akibat harga pakan pabrikan yang naik. Slamet memperkirakan jika tidak ada intervensi program yang tepat, pembudidaya bisa kehilangan margin keuntungan sekitar Rp 500 hingga Rp 700 per kilogram (kg) produksi. Menurutnya, itu belum termasuk jika ada tren penurunan harga jual lokal.

"Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar US telah memicu naiknya harga pakan pabrikan. Ini jelas akan memicu biaya produksi juga turut naik, karena 70% komposisi biaya produksi adalah berasal dari pakan. Oleh karenanya, KKP menyarankan pembudidaya skala kecil untuk menggunakan pakan mandiri," jelasnya.

Tahun ini KKP akan terus mendorong agar pakan mandiri bisa menjangkau sentra sentra produksi budidaya skala kecil. Di sisi lain, ketersediaan bahan baku juga akan dijamin oleh KKP dengan membangun sistem logistiknya di masing-masing kawasan. Selain itu, imbuhnya, KKP akan mempercepat realisasinya, khususnya dalam mengantisipasi dampak ekonomi wabah COVID-19.

"Di tengah wabah COVID-19 ini, kita harus pastikan stok pangan terjamin dan tentu siklus produksi di hulu tidak terganggu. Saya kira stimulus untuk pakan ini akan terus kita dorong dan program gerpari terus kita galakan agar menjangkau pembudidaya skala kecil. Saya memprediksi, memang wabah COVID-19 ini akan mempengaruhi nilai NTUPi, oleh karenanya kami akan berupaya untuk mengendalikan agar dampaknya tidak terlalu dalam. Salah satunya menstimulus agar input produksi seperti pakan lebih efisien," pungkasnya.

Salah satu produk pakan mandiri yang saat ini telah berhasil tembus pangsa pasar pembudidaya ikan skala kecil yakni pakan yang diproduksi kelompok pakan mandiri TRIMINO di Desa Tlogoweru Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak. Kelompok ini merupakan salah satu binaan Balai Besar Budidaya Air Payau (BBPAP) Jepara, salah satu UPT DJPB.

Pakan mandiri yang diberi merk 'Jali Lele' ini diperkenalkan sejak dua tahun lalu dan semakin diminati di kalangan pembudidaya ikan air tawar. Hal ini terbukti dengan semakin tingginya permintaan baik dari Kabupaten Demak maupun di luar daerah seperti Semarang, Kudus, Jepara dan lainnya.

Ketua Kelompok Pakan Mandiri, Kasnadi, atau lebih dikenal dengan nama bang Jali, mengatakan kelompoknya yang menerima bantuan mesin pakan mandiri pada 2015 saat ini telah mampu menggenjot kapasitas produksi pakan mandiri merk Jali Lele hingga 400 kg per jam. Menurutnya, tingginya permintaan terhadap pakan akhir-akhir ini telah mendorong kelompok yang ia gawangi meningkatkan kapasitas produksi rata rata per hari 1.500 kg.

"Saat ini kami telah menggunakan ekstruder sehingga dapat memproduksi pakan apung. membuat mesin extruder modifikasi dengan kapasitas lebih besar. Jika semula bisa hanya 50 kg per jam, saat ini kami telah mampu memproduksi hingga 400 kg per jam. Kalau tidak begini, kami kualahan untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya. Minat pada pakan merk Jali Lele ini luar biasa tinggi," terangnya.

Untuk penyediaan bahan baku, ia menambahkan setidaknya dalam seminggu, harus menyuplai bahan baku minimal 4 ton, terutama untuk tepung ikan dan kedelai. Untuk menjamin kontinuitasnya, ia mengatakan telah menjalin kerja sama dengan BBPAP Jepara terutama untuk tempat konsultasi.

Jali juga menjelaskan bahwa biaya produksi pembuatan pakan sekitar Rp 5.600 per kg. Ia menjualnya dengan harga Rp 8.000 per kg untuk jenis apung dan Rp 6.700 per kg untuk jenis tenggelam. Dari hasil penjualan tersebut, kelompok mampu meraup keuntungan bersih rata-rata Rp 1.500 per kg.

"Kualitas pakan kami juga terjamin. Rata-rata kami bikin protein di atas 28% tergantung komoditas. Intinya produk kami selalu berpatokan pada SNI. Alhamdulillah pakan kami juga sudah terdaftar dan telah mendapat sertifikat Cara Pembuatan Pakan Ikan Yang Baik (CPPIB). Saat ini masalah kami cuman satu, yakni logistik. Kami sangat butuh alat transportasi dengan kapasitas agak besar (minimal truk kapasitas 4 ton). Kami sudah sampaikan langsung ini kepada bapak Menteri saat audiensi di Jepara dan beliau menyanggupi. Jadi kami sangat berharap ini bisa terealisasi," ungkapnya.

Rohmad, salah satu pembudidaya pengguna Jali Lele di desa Tlogoweru Demak, mengaku setelah menggunakan pakan merk Jali Lele, nilai tambah untungnya meningkat. Menurutnya pakan lebih efisien dan bagus untuk pertumbuhan ikan lele. Hal yang sama juga diakui oleh Sayuti, pembudidaya minapadi yang menggunakan merk Jali Lele.

(prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com