Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 29 Mar 2020 17:01 WIB

Melihat Negara Maju Atur Anggaran Darurat Tangani Corona

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Dampak Corona ke Ekonomi Foto: Dampak Corona ke Ekonomi (Tim Infografis Fuad Hasim)
Jakarta -

Virus corona telah ikut menyerang sendi-sendi perekonomian global. Berbagai negara di dunia pun sudah mulai mengucurkan anggaran untuk menyelematkan rakyatnya dari dampak virus corona.

Lewat keterangan tertulisnya, Ketua Dewan Pengurus LP3ES Didik J. Rachbini dan Peneliti LP3ES Fachru Nofrian memaparkan di Prancis ada anggaran pemerintah yang disebut dana solidaritas. Anggaran ini digunakan untuk membantu perusahaan dan para pekerjanya.

Didik dan Fachru mengatakan bahwa setidaknya Prancis mengucurkan total anggaran darurat sebesar € 45 miliar atau sekitar Rp 765 triliun (dengan kurs Rp 17 ribu). Mereka mengatakan ada € 2 miliar atau sekitar Rp 34 triliun yang akan dibagikan ke perusahaan, khususnya bagi perusahaan yang 70% aktivitasnya berhenti karena corona.

"Dari anggaran tersebut, pengeluaran publik untuk 2 bulan sebesar €2 milyar disebut fond solidarité. Dana ini diperuntukkan untuk sekitar perusahaan yang akan berhenti aktivitasnya hingga di atas 70%," jelas kedua ekonom ini lewat keterangan yang diterima, Minggu (29/3/2020).

Setiap perusahaan disebutkan akan mendapat €1.500 atau Rp 25,5 juta per bulan selama dua bulan ke depan. Perusahaan yang difokuskan adalah untuk sektor UMKM.

"Untuk pengeluaran ini, prosesnya cepat dan singkat dalam bentuk €1.500 per bulan untuk dua bulan. Ini untuk perusahaan mikro dan kecil," kata Didik dan Fachru.

Sementara itu untuk para pekerja yang menjadi pengangguran ada bantuan pemerintah sebesar € 8,5 miliar atau sekitar Rp 144 triliun. Gaji para pekerja akan dibayarkan pemerintah selama dua bulan.

"Kebijakan yang sama dilakukan untuk pengangguran parsial, yakni pengeluaran pemerintah sebesar € 8.5 miliar, mereka menerima gaji untuk dua bulan," tulis Didik dan Fachru.

Sementara itu di Jerman, telah mengucurkan € 40 miliar atau sekitar Rp 680 triliun yang akan digunakan untuk menyelamatkan UMKM dan bisnis perorangan. € 10 miliar atau sekitar Rp 170 triliun di antaranya akan digunakan untuk bantuan subsidi langsung, sisanya untuk meringankan pinjaman.

"Sama seperti di Perancis, di Jerman, dana solidaritas juga dikucurkan hingga € 40 miliar. Dana tersebut € 10 miliar untuk usaha mikro dan kecil dan bisnis perorangan. Bentuknya adalah subsidi langsung. Sisanya € 30 miliar dalam bentuk pinjaman," papar kedua ekonom ini.

Didik dan Fachru sendiri menyarankan agar pemerintah Indonesia melakukan penangguhan pajak para pengusaha UMKM. Untuk masyarakat miskin pemerintah harus segera meluncurkan BLT, potensi APBN dinilai lebih dari cukup untuk segera meluncurkan BLT.

"Kebijakan fiskal yang harus dilakukan adalah untuk golongan bawah, seperti menangguhkan pajak UMKM, BLT, bantuan langsung tunai, dan termasuk bantuan raskin dihidupkan lagi seperti dahulu. Indonesia sudah punya pengalaman melakukan ini dan bisa dilakukan dengan cepat," ungkap kedua ekonom ini.

Sementara jajaran perusahaan pelat merah bisa juga membantu masyarakat. Didik dan Fachru mencontohkan, PLN harusnya bisa memberi subsidi listrik lebih besar di tengah wabah ini, kalau perlu digratiskan.

"Jajaran BUMN harus ikut serta turun tangan, seperti PLN memberi subsidi besar atau bahkan beberapa bulan pelanggan listrik golongan bawah digratiskan," kata Didik dan Fachru.



Simak Video "Pemerintah: Situasi Masih Belum Normal, Buat Paradigma Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com