Jokowi Minta Pembatasan Sosial Skala Besar, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 31 Mar 2020 05:27 WIB
Deretan gedung pencakar langit menghiasi wajah Jakarta. Hari ini, salah satu gedung tertinggi diresmikan, yaitu Menara Astra.
Foto: Dok
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengambil langkah lebih lanjut guna menekan penyebaran virus corona. Bukan dengan karantina wilayah atau lockdown, melainkan pembatasan sosial berskala besar.

Pembatasan sosial berskala besar adalah pembatasan kegiatan tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit. Kebijakan ini meliputi sejumlah poin, di antaranya peliburan sekolah dan tempat kerja hingga pembatasan kegiatan di tempat umum.

Pengamat Ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menilai keputusan ini dapat memberikan dampak ekonomi yang tidak terlalu besar dibandingkan harus lockdown.

"Positifnya, penurunan aktivitas ekonomi tidak setajam kalau lockdown. Dalam jangka pendek dropnya tidak terlalu drastis dibanding kalau lockdown total," kata Faisal kepada detikcom, Senin (30/3/2020).

Meski begitu, kebijakan ini dinilai memberikan ketidakpastian yang lebih lama terhadap ekonomi. Lantaran kebijakan yang diambil pemerintah saat ini dinilai kurang efektif untuk menekan penyebaran virus corona.

"Kalau dalam jangka panjang ini efektivitasnya dalam menangkal wabah kurang efektif dibanding lockdown total. Sehingga bisa jadi dalam jangka pendek dropnya tidak seberapa, tapi berlarut-larut karena wabahnya tidak cepat selesai. Dibanding kalau lockdown total langsung drop aktivitas ekonominya, tapi lebih efektif dalam menangkal wabah sehingga recovery-nya bisa lebih cepat," ucapnya.

Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, selain mempertimbangkan ekonomi pemerintah dinilai mempertimbangkan sosial budaya masyarakat Indonesia yang tidak terbiasa dengan karantina. Mengingat banyak pekerja sektor informal di Indonesia.


"Saya pikir selain mempertimbangkan ekonomi, mempertimbangkan faktor sosial budaya juga dari masyarakat kita yang belum terbiasa dengan karantina ini. Kalau pembatasan sosial berskala besar ini kan seperti ojek online masih bisa beraktivitas cuma untuk mengantar makanan atau barang ada aktivitasnya. Pasti menurun tapi tidak sama sekali berhenti," ujarnya.

Lalu, kenapa lockdown tidak jadi pilihan untuk menekan penyebaran corona? Apakah pemerintah belum siap?



Simak Video "Dokter Reisa Ungkap Lockdown Tak Pernah Direkomendasikan WHO"
[Gambas:Video 20detik]