SoftBank Berencana Mundur dari Penyelamatan WeWork

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 02 Apr 2020 16:50 WIB
WeWork
Foto: Reuters
Jakarta -

Perusahaan teknologi Jepang, SoftBank berencana mundur dari sebagian besar paket pembelian saham dalam rencana penyelamatan WeWork yang hampir terguling.

Pembatasan besar-besaran pada pekerjaan, perjalanan, dan jarak sosial yang bertujuan mencegah penyebaran virus corona membuat WeWork dan SoftBank berada di bawah tekanan besar.

SoftBank, telah mundur dari rencana penyelamatan WeWork senilai US$ 3 miliar setara Rp 49 triliun (kurs Rp 16.500).

SoftBank menjelaskan beberapa kondisi yang tidak dipenuhi WeWork, yakni kegagalan untuk mendapatkan persetujuan antimonopoli yang diperlukan pada tanggal 1 April, penyelidikan kriminal dan sipil yang signifikan tertunda ke dalam perusahaan dan tidak optimalnya operasi WeWork akibat pembatasan global Covid- 19.

"Penutupan penawaran tender dikondisikan pada kepuasan kondisi kepuasan yang disepakati pada Oktober nanti," kata Rob Townsend, kepala pejabat hukum SoftBank.

Melansir dari CNN Bussines, Kamis (2/4/2020), WeWork menolak berkomentar, namun komite khusus dewan WeWork mengatakan bahwa ia terkejut dan kecewa oleh langkah SoftBank. Ia mengungkapkan bahwa perusahaan akan mengevaluasi semua opsi hukum, termasuk litigasi.

Tahun lalu, Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham WeWork yang gagal membuatnya perusahaan diambang kebangkrutan. Di masa itu SoftBank masuk dengan menyuntikan saham sekitar Rp 165 triliun (US$ 10 miliar). Kesepakatan itu memberi SoftBank 80% kepemilikan atas startup tersebut.

Mantan CEO WeWork, Adam Neuman sudah mengundurkan diri sebagai CEO di tengah kemarahan karyawan dan investor atas kepemimpinannya di perusahaan.

Pada presentasi pendapatan bulan lalu, CEO SoftBank Masayoshi Son membuat rencana agar WeWork mengubah arus kas positif dalam beberapa tahun. Tapi pandemi global virus corona telah mengubur rencana tersebut.

WeWork menderita, karena kota-kota besar di mana ia beroperasi ditutup selama berminggu-minggu. Itu masih harus membayar sewa jangka panjang, bahkan perusahaan dipaksa membatalkan kontrak dengan perusahaan yang bekerja sama dengannya.

Son mengatakan SoftBank telah menanamkan uang melalui Vision Fund senilai Rp 1.653 triliun (US$ 100 miliar). Dalam upaya untuk menyelamatkan harga saham SoftBank yang anjlok.

Pekan lalu ia juga membuat pengumuman mengejutkan tentang jumlah penjualan aset senilai Rp 678 triliun (US$ 41 miliar) untuk membeli kembali saham dan mengurangi beban utang perusahaan yang besar.



Simak Video "Lord & Taylor Bangkrut Dihantam Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)