Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 04 Apr 2020 13:25 WIB

Boleh Mudik di Tengah Corona, Tarif Bus Bakal Naik?

Hendra Kusuma - detikFinance
Penumpang menaiki bus Antar Kota Antar Provinsi di Terminal Pulo Gebang, Jakarta, Minggu (29/3/2020). Kementerian Perhubungan mengimbau agar warga membatalkan niatnya pulang kampung, untuk mencegah penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc. Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Jakarta -

Sekjen Organda Ateng Aryono mengatakan tarif bus saat musim mudik Lebaran tahun ini akan berada di koridor batas atas. Menurutnya mudik Lebaran tahun ini berbeda dengan periode sebelumnya, apalagi okupansi dalam satu bus dikurangi hampir setengahnya karena penerapan physical distancing.

"Logikanya adalah ketika perhitungan itu ketika okupansi diturunkan maka biaya atau return dari itu butuh yang lebih tinggi, wajar kalau tarif akan lebih tinggi. Tapi kalau kita lakukan itu tidak tega melakukannya," kata Ateng saat dihubungi detikcom, Jakarta, Sabtu (4/4/2020).

"Karena kita ada batasan tarif batas atas batas bawah, kalau selama tarif kita ada di koridor itu tidak melanggar dan wajar melakukan, tapi kalau menaikkan pun saya pikir kasihan masyarakat pengguna," tambahnya.


Ateng menegaskan, para anggota Organda boleh menyesuaikan tarif bus angkutan selama masih berada di koridor batas sesuai aturan yang ada. Dia pun mempersilahkan pemerintah untuk menindak tegas jika anggota Organda terbukti menerapkan tarif yang tidak wajar.

"Silahkan dilaporkan dan kalau terbukti melanggar otoritas akan menindak, kami legowo kalau anggota yang nakal sikat saja, tidak apa-apa," ujarnya.

Meski demikian, Ateng mengaku industri angkutan darat juga membutuhkan insentif dari pemerintah seperti relaksasi pembayaran pokok dan bunga kredit dari perbankan dan perusahaan leasing.

Menurut Ateng, insentif tersebut sangat membantu keberlangsungan perusahaan angkutan darat. Pihaknya pun telah menyampaikan usulan insentif tersebut kepada Kementerian Perhubungan.

"Kami sudah sampaikan termasuk BLT kepada awak kami, kami tidak bisa katakan jumlah, tapi tolong dengan kewajaran, misalnya imbauan yang di Jakarta untuk tetap tinggal maka penuhi lah kebutuhan untuk hajat hidup mereka," ungkapnya.



Simak Video "Mudik Dilarang, Pedagang di Pantura 'Meradang'"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com