Keuangan Cuma Tahan Sampai Juni, Pengusaha Minta Bantuan Pemerintah

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 06 Apr 2020 22:30 WIB
Bank Indonesia (BI) dan Bareskrim Polri hari ini memusnahkan 50.087 lembar uang rupiah palsu di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (26/2).
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Ketua kebijakan publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono mengatakan daya tahan perekonomian Indonesia di tengah wabah corona bergantung pada tingkat keparahan dan durasi wabah corona. Sutrisno menilai semakin parah wabah dan semakin lama durasinya, maka semakin lemah ekonomi Indonesia.

Bahkan, Sutrisno bercerita bahwa dari laporan pengusaha yang tergabung dalam Apindo, para pelaku usaha di daerah daya tahan keuangannya hanya sampai pada bulan Juni mendatang. Ancamannya, banyak perusahaan yang akan tutup.

"Hasil konferensi call kita di Apindo dengan teman-teman di daerah dan pelaku sektoral, bisa kita ambil kesimpulan sementara daya tahan cash flow kita hanya sampai bulan Juni tahun ini. Lewat dari itu cash flow kering, kita tidak akan sanggup membiayai pengeluaran, tanpa pemasukan alias tutup," kata Sutrisno dalam wawancara dengan detikcom, Senin (6/4/2020).

Menurutnya untuk mencegah kebangkrutan, pengusaha harus menurunkan banyak beban biaya. Mulai dari beban karyawan, gaji, THR, hingga beban pajak.

"Satu-satunya jalan untuk menolong kebangkrutan adalah menurunkan sebisa mungkin beban biaya usaha. Biaya itu apa saja? Terdiri dari, beban biaya karyawan, seperti gaji, THR dan seterusnya, juga beban pajak dengan segala variasinya," kata Sutrisno.

Sutrisno juga mengatakan pengusaha harus mengurangi beban energi, listrik, gas dan sejenisnya. Bahkan pengusaha pun mesti mengurangi iuran BPJS dan pensiun.

"Beban-beban overhead listrik, gas, dan sejenisnya. Lalu beban cicilan utang, bunga, asuransi dan yang terkait dengan itu, iuran BPJS dan pensiun dan yang terkait," jelas Sutrisno.

Dia menegaskan pengusaha bisa saja gulung tikar apabila masih membayar beban berat. Apabila kebangkrutan terjadi ujungnya akan menambah jumlah pengangguran.

Sutrisno meminta agar pemerintah membantu beban pengusaha untuk mencegah kebangkrutan. Pemerintah harus membentuk kebijakan fiskal yang diarahkan untuk menekan beban perusahaan, entah mendorong untuk membebaskan biaya ataupun menangguhkan berbagai beban biaya seperti di atas.

"Kita harap pemerintah bertindak cepat mencegah kebangkrutan ekonomi. Pertama adalah kebijakan fiskal untuk membebaskan atau setidak-tidaknya menangguhkan untuk jangka waktu yang cukup berbagai beban biaya," kata Sutrisno.


Sutrisno juga mengapresiasi langkah pemerintah menggelontorkan stimulus hingga Rp 405,1 triliun untuk membentuk social safety net bagi mereka yang terdampak virus corona. Pengusaha pun menilai golongan rakyat kecil memang harus diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan langsung.

Dia menilai bantuan uang tunai dan bantuan yang diberikan dalam bentuk barang, perlu dicari proporsi yang tepat. Sutrisno menegaskan agar pemberian bantuan jangan sampai menjadi dorongan untuk rakyat kecil mudik.

"Jangan sampai pemberian uang tunai malah mendorong orang berkeliaran diluar rumah termasuk dipakai untuk pulang mudik, yang kontra produktif bagi upaya penghentian penyebaran virus," jelas Sutrisno.



Simak Video "Kasus Aktif Covid-19 Indonesia di Bawah Rata-rata Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)