Jepang Guyur Rp 16.000 T untuk Warga yang Terdampak Corona

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 07 Apr 2020 12:20 WIB
Bunga Sakura bermekaran di kawasan Jepang. Pemandangan bunga Sakura yang bermekaran itu tampak menawan di tengah wabah Corona yang melanda Jepang dan dunia.
Foto: AP Photo
Hong Kong -

Jepang siapkan stimulus 108 triliun yen atau setara Rp 16.267 triliun (kurs Rp 150) guna mencoba melindungi ekonominya dari imbas wabah corona.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, Senin lalu mengumumkan paket bantuan 108 triliun yen yang jumlahnya terbilang mengejutkan karena setara dengan 20% pendapatan Jepang per tahunnya.

Paket bantuan ini akan diberikan kepada keluarga dan bisnis kecil yang kehilangan pendapatannya akibat pandemi virus corona. Bantuan akan diberi dalam bentuk uang tunai, serta dilengkapi keringanan pajak dan pinjaman tanpa bunga.

Melansir dari CNN Bussines, Selasa (7/4/2020), Jepang adalah salah satu negara yang mengeluarkan paket bantuan besar dari pemerintah untuk membantu rumah tangga dan bisnis yang terganggu ekonominya akibat virus corona

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS), Maret lalu telah meloloskan RUU stimulus terbesar dalam sejarah AS sebesar US$ 2 triliun setara Rp 32.781 triliun (kurs 16.400).

Selain itu, Jerman, Prancis, Inggris, Italia, Spanyol, dan negara-negara besar lainnya juga telah mengumumkan rencana dana bantuan guna perangi krisis akibat virus corona.


Banjir stimulus datang karena jumlah kasus virus corona terus meningkat. Jepang telah mencatat lebih dari 3.600 kasus dan 85 kematian.

Menurut, Universitas Johns Hopkins, sudah lebih dari 1,27 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi, sementara 69.000 orang telah meninggal akibat virus corona.

Ekonom Jepang di Capital Economics, Tom Learmouth mengatakan, pandemi corona telah mengganggu perekonomian secara global, banyak pekerja di-PHK, industri penerbangan, produksi dan penjualan ritel kini mengalami penurunan.

"Gangguan virus corona akan menimbulkan pukulan ekonomi yang parah dalam beberapa bulan mendatang ", kata Learmouth

Kasus virus corona yang kini meningkat di kota-kota seperti Tokyo dan Osaka menambah kekhawatiran pemerinta Jepang soal darurat virus corona gelombang dua dan menyebabkan toko-toko tutup.


Sementara gubernur Tokyo telah mendesak 13,5 juta penduduk kota untuk bekerja di rumah mulai 12 April mendatang.Namun, sekitar 80% perusahaan di Jepang sulit menerapkan kebijakan karyawan unutk kerja dari rumah.

Menurut data pemerintah Jepang tahun 2019, budaya kerja di Jepang membuat pemerintah sulit untuk membujuk orang agar tetap di rumah.



Simak Video "Jokowi Ingin Ada Bantuan ke Usaha Mikro hingga Sektor Informal"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)