Sri Mulyani Jelaskan Corona Bisa Bikin Ekonomi RI Resesi

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 14 Apr 2020 16:45 WIB
Sri Mulyani
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Ekonomi Indonesia akan mengalami masa yang sangat sulit tahun ini. Skenario pemerintah pertumbuhan ekonomi tahun ini dalam skenario berat hanya tumbuh 2,35%, sedangkan skenario sangat berat bisa -0,4%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerangkan, skenario pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan sangat tergantung dari perkembangan dampak COVID-19. Jika perkembangannya semakin buruk, ekonomi Indonesia bisa resesi.

Dia menjelaskan, dengan asumsi skenario pertumbuhan ekonomi 2,35%, maka kuartal II-2020 pertumbuhan ekonomi hanya akan ada di kisaran 0,3% hingga -2,6%. Sementara di kuartal III-2020 akan tumbuh di kisaran 1,5%-2,8%.

"Jadi PE kita untuk kuartal II-III ini tekanannya akan sangat berat. Pada skenario kita yang berat ada di titik mendekati nol, dan untuk kuartal kedua akan mendekati nol atau bahkan negatif. Namun di kuartal ketiga kita harap sudah mulai membaik," terangnya dalam konferensi pers virtual, Selasa (14/4/2020).

Namun jika wabah COVID-19 berlangsung cukup panjang, maka kondisinya akan berbeda lagi. Ekonomi Indonesia bisa resesi dengan catatan pertumbuhan negatif di kuartal II dan III.

"Kalau kita kondisinya akan berat cukup panjang kemungkinan akan terjadi resesi. Di mana dua kuartal berturut-turut Indonesia PDB-nya bisa negatif. Ini yang sedang kita upayakan untuk tidak terjadi. Memang sangat berat namun ini adalah dalam menghadapi kondisi yang luar biasa dan kita coba untuk atasi," tambahnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah akan fokus pada penanganan COVID-19. Instrumen APBN akan fokus digunakan untuk tiga hal, yaitu bidang kesehatan dengan menjaga penyebaran, jaring pengaman sosial, dan memberikan insentif kepada dunia usaha hingga ke sektor informal dan UMKM.

"Dalam situasi ini kami lihat APBN 2020 akan menanggung beban luar biasa. Tahun ini karena seluruh kondisi ekonomi mengalami dampak, maka penerimaan negara akan mengalami tekanan ke bawah. Kita perkirakan sekitar 10% kontraksi penerimaan negara karena kita memberikan berbagai insentif perpajakan dan adanya perlambatan ekonomi," terangnya.

"Sedangkan sisi belanja kita perkirakan akan naik sekitar 3%, namun ini yang sedang terus kita jaga melalui langkah refocusing dan penyisiran anggaran serta penyesuaian anggaran yang bapak pres instruksikan hari ini," tambahnya.



Simak Video "Berikut Sebaran 2.881 Kasus Baru Covid-19 RI 7 Juli"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ara)