BKP Kembangkan Sagu sebagai Penyelamat Pangan Masa Depan

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikFinance
Rabu, 15 Apr 2020 14:19 WIB
Kementan
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Badan Ketahanan Pangan (BKP) melalui program Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL) merealisasikan pengembangan komoditas Sagu yang saat ini sudah terdapat di 4 provinsi. Salah satu perkembangan yang paling menarik adalah di kabupaten Merauke Papua.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendriadi mengungkapkan pihaknya melakukan berbagai terobosan seperti memutus panjang mata rantai distribusi pangan melalui Pasar Mitra Tani, Pekarangan Pangan Lestari (P2L), dan Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL) tersebut.

"Indonesia ini memiliki potensi sagu terbesar di dunia, mencapai 5,5 juta hektare dari total 6,5 juta hektare luas lahan sagu dunia. Dari total luas tersebut, 5,2 juta hektare berada di Papua. Di saat pandemi virus corona seperti sekarang ini, sagu selain adaptif terhadap perubahan iklim juga menjadi penyelamat pangan masa depan," ujar Agung, dalam keterangan tertulis, Rabu(15/4/2020).

Agung mengungkapkan, ketahanan pangan Indonesia harus kuat dan terus dijaga. Untuk itu tidak bisa hanya mengandalkan pangan pokok beras.

"Apalagi kalau berbicara puluhan tahun ke depan. Sagu harus kita kembangkan," ujar Agung.

Agung menjelaskan, bahwa kegiatan PIPL yang dilakukan di kabupaten Merauke akan difokuskan pada produksi tepung berbasis pangan lokal sebagai alternatif bahan baku untuk industri pangan olahan, sehingga secara bertahap ketergantungan pada gandum diharapkan terus berkurang. Penempatan PIPL di Merauke juga dikatakan tepat karena selain potensi tanaman sagu masih sangat banyak, para petaninya pun masih mengusahakan tanaman sagu walaupun hanya dengan metode sederhana dan belum menggunakan mesin pengolah sagu.

"Kita punya banyak sumber pangan lokal yang bisa diproduksi jadi tepung. Sebagian bisa substitusi tepung menjadi bahan substitusi gandum," ujar Agung.

Agung menambahkan, kalau saja tepung sagu bisa mensubstitusi gandum 10-20% dampaknya akan luar biasa. Tidak saja bagi pengembangan tepung sagu di tanah air, namun juga akan mensejahterakan petani.

"Kalau sudah demikian ketahanan pangan nasional kini dan kedepannya akan semakin kokoh. Untuk itu, mari bersama-sama kita kembangkan sagu yang potensinya luar biasa," pungkas Agung.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Dwitrap Yakobus mengatakan bahwa pihaknya sangat senang dengan penempatan PIPL di kampungnya yaitu Kampung Tambat.

"Kami sangat senang, pemerintah menempatkan PIPL di kampung ini," ujar Yakobus.

Menurut Yakobus, di kampungnya terdapat potensi lahan Sagu seluas 250 hektare, sedangkan yang digarap baru seluas 15 hektare.

"Secara bertahap akan kami kembangkan terus. Melalui PIPL, kami jadi lebih bersemangat dan produktif mengolah tanaman sagu menjadi tepung sagu," ungkap Yakobus.

Yakobus mengungkapkan, melalui peralatan bantuan PIPL kini sebatang pohon sagu ukuran 10 sampai 12 meter bisa dikerjakan hanya dalam waktu 1 hari. Hasilnya adalah 480 sagu basah atau 240 kg sagu kering.

"Dulu kami mengerjakannya antara 3 sampai 5 hari dan hasilnya hanya 250 kg sagu basah atau 125 kg sagu kering," imbuhnya

Yakobus menambahkan, bahwa dengan bantuan peralatan Kementerian Pertanian sangatlah bermanfaat untuk kesejahteraan petani di kampungnya.

"Selain mampu meningkatkan produksi berlipat, pendapatan, dan kesejahteraan petani juga meningkat," pungkas Yakobus.

Asisten II Bidang Perekonomian Merauke Sunarjo juga menambahkan, bahwa pihaknya sangat berterima kasih dengan adanya bantuan dari Kementerian Pertanian.

"Kami akan dukung pengembangan sagu di Merauke, karena sagu ini bukan hanya tanaman untuk dikonsumsi tetapi juga menjadi tanaman adat yang perlu terus dikembangkan. Sagu ini benar-benar bisa diandalkan sebagai pangan alternatif masa depan," pungkas Sunarjo.

(prf/ara)