Biang Kerok Harga Bawang Putih Masih Mahal

se - detikFinance
Kamis, 16 Apr 2020 23:00 WIB
Pekerja tengah mengangkat karung yang berisikan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (7/6/2019). Berdasarkan pantauan dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, komoditas bawang putih, bawang merah, cabai rawit merah, dan cabai rawit hijau terus merangkak naik dalam sepekan terakhir.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pemerintah sudah menerbitkan rekomendasi impor atas 460.778 ton bawang putih. Untuk mempercepat proses impor, Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun membebaskan persyaratan surat perizinan impor (SPI) hingga 31 Mei 2020. Oleh sebab itu, pemerintah menargetkan harga bawang bisa kembali normal hingga Rp 30.000/kg.

Namun hingga hari ini, harga bawang putih di DKI Jakarta masih tembus Rp 43.000 per kilogram (kg) menurut Info Pangan Jakarta. Direktur utama PT Food Station Tjipinang Arief Prasetyo Adi mengungkapkan, saat ini harga bawang putih di China memang sudah tinggi, bahkan naik sekitar 3 kali lipat dari tahun 2018.

"Bawang putih 2 tahun lalu itu harganya US$ 400-450 per ton di China. Kemudian tahun lalu itu jadi US$ 800-900 per ton, itu sudah double. Tahun ini harganya US$ 1.150-1.200 per ton. Jadi harga di China sudah tinggi, ungkap Arief kepada detikcom, Kamis (16/4/2020).

Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar juga meningkat. Hari ini saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar tembus Rp 15.672.

"Kedua, kurs yang dipakai kalau waktu itu Rp 13.000, hari ini dolar hampir Rp 16.000. Jadi sudah harga di China tinggi, kursnya tinggi. Jadi kalau ditanya harga bawang putih naik, ya kalau pelaku usaha sudah tahu karena harga di China sudah tinggi dan kurs naik," imbuh dia.

Faktor lainnya yakni keterlambatan persetujuan impor yang sempat dialami para importir sebelum Kemendag membebaskan SPI pada 18 Maret 2020 lalu.

"Ketiga kalau terjadi keterlambatan persetujuan impor," ujarnya.

Untuk lebih menekan harga bawang putih, ia menyarankan agar seluruh proses distribusi mulai dari pengapalan hingga pembongkaran di pelabuhan dipermudah. Sehingga, biaya distribusi tak terlalu besar.

"Saya mengimbaunya G to G. Jadi government sepakat berapa kuota impor dan KPI-nya diatur. Jadi misalnya kedatangan Januari-Februari-Maret-April dibreakdown lagi seminggu. Lalu pelabuhannya di Indonesia di mana, spesifikasinya, itu sudah deal semua. Jadi tinggal datang saja kontainernya. Sambil kita mempersiapkan daerah-daerah mana yang masih bisa ditanam bawang putih," pungkas dia.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)