Pemerintah Akan Rundingkan Dumping Baja dengan Cina

Pemerintah Akan Rundingkan Dumping Baja dengan Cina

- detikFinance
Rabu, 14 Des 2005 11:05 WIB
Jakarta - Cina selalu cuek dengan tuduhan dumping sejumlah produknya, termasuk baja. Maka itu pemerintah memilih berunding dengan Cina soal baja ini agar keluhannya lebih didengar."If we can't fight, we join them. Kalau kita tidak berunding dengan Cina, kita akan mengalami berbagai kesulitan," kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris, di Gedung Departemen Perindustrian (Depperin), Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (14/12/2005).Diakui Fahmi, saat ini Cina yang merupakan produsen baja terbesar di dunia, mengalami kelebihan persediaan (over supply). Di sisi lain, banyak negara yang membutuhkan baja dari Cina.Untuk mengatasi serbuan baja Cina yang masuk ke Indonesia dengan harga murah, pemerintah, ungkap Fahmi, akan melakukan perlindungan khusus terhadap produsen lokal. Hal ini sesuai dengan permintaan produsen lokal agar penjualannya tidak terganggu."Tapi kalau permintaan pabrikan berlebihan dan menyulitkan kosumen juga tidak bagus, itu dilematis. Untuk mengimbanginya, perlu perundingan," kata Fahmi.Karakter pola produksi di Cina juga harus dipahami, bagaimanapun, meski Cina telah menganut prinsip kapitalis, tetap saja prinsip intinya negara komunis."Jadi tidak ada yang tidak bisa diinstruksikan oleh pemerintah Cina. Contohnya upah turun jam 3 sore, semua langsung mematuhi, atau harga barang diminta harus turun, mereka juga mematuhi," kata Fahmi.Menurut Fahmi, jika Cina dinilai dumping atau terlalu banyak melakukan subsidi, maka negeri Tirai Bambu itu tidak peduli."Meski dibilang dumping 1.000 kali, tetap jalan, mereka cuek karena banyak yang menghendaki produknya," tutur Fahmi.Kondisi ini, ujar Fahmi, merupakan tantangan besar bagi Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) yang sedang mengadakan pertemuan tingkat menteri di Hong Kong.WTO bisa menerapkan prinsip tarif yang sifatnya memberikan dukungan secara bertahap terhadap negara yang masih dianggap lemah.Menurut Fahmi, dengan perilaku Cina saat ini, maka semua negara akan tertabrak. Ini menjadi tantangan WTO untuk menerapkan aturan yang sudah disepakati untuk menahan gempuran produk Cina, seperti tesktil."Untuk tekstil, habislah kita dimakan, belum lagi baja, ditambah gempuran industri perkakas. Saya ingin industri perkakas bisa bekerjasama dengan Cina. Kita rebut teknologinya dan membikin perkakas yang dibutuhkan menengah ke bawah," papar Fahmi. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads