Rasio Utang RI Akan Turun Jadi 31,8 Persen Tahun 2009

Rasio Utang RI Akan Turun Jadi 31,8 Persen Tahun 2009

- detikFinance
Rabu, 14 Des 2005 11:39 WIB
Jakarta - Pemerintah Indonesia akan berupaya terus menekan rasio utang. Diperkirakan, rasio utang yang saat ini mencapai 42 persen PDB bisa turun menjadi 39,5 persen PDB pada tahun 2007 dan turun lagi menjadi 31,8 persen PDB pada tahun 2009.Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Slamet Seno Adji dalam seminar Economic Outlook 2006 di Financial Club, Graha Niaga, Jakarta, Rabu (14/12/2005).Sebelumnya, Ketua Bappenas Paskah Suzetta menilai rasio utang yang ideal adalah 5 persen dari PDB.Menurut Seno, penurunan rasio utang itu harus dapat dicapai guna mendorong pertumbuhan perekonomian yang lebih tinggi. Untuk pembayaran utang luar negeri pada tahun 2006 mendatang, Seno mengungkapkan, angkanya mencapai Rp 63,6 triliun atau sekitar 2,1 persen dari PDB. Angka itu berarti berbeda dengan yang disampaikan Dirjen Perbendaharaan Depkeu Mulia P. Nasution yang menyebut angka Rp 91,6 triliun untuk utang luar negari yang jatuh tempo.Penarikan pinjaman luar negeri pada tahun 2006 diprediksi turun menjadi hanya Rp 35,1 triliun atau 1,2 persen dari PDB untuk tahun 2006. Penurunan penarikan pinjaman itu menurut Seno menunjukkan bahwa pengelolaan pinjaman luar negeri diarahkan untuk menurunkan stok utang luar negeri Indonesia. Nantinya, pemerintah akan menggenjot pembiayaan dari sumber-sumber lain. Pertumbuhan EkonomiSeno juga memperkirakan, pertumbuihan ekonomi tahun 2006 diperkirakan sebesar 6 persen. Angka itu diperoleh karena adanya tambahan pengeluaran pemerintah dari APBN 2005 yang sebesar Rp 10 triliun dan dialihkan sebagai stimulus fiskal tahun 2006.Ia mengakui, pertumbuhan ekonomi tahun 2006 masih menghadapi risiko penurunan yang perlu diantisipasi seperti inflasi tinggi yang berkepanjangan yang dapat mengakibatkan penurunan konsumsi, investasi dan daya saing.Selain itu juga masih tingginya tren suku bunga internasional, pertumbuhan dunia yang menurun serta adanya tekanan pada perbankan yang cukup besar sehingga menurunkan penyaluran kredit. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads