Satgas Pangan Siap Tangkap Spekulan Penimbun Sembako

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 20 Apr 2020 23:00 WIB
Direktur Utama Perum Badan Usaha Logistik (Bulog), Budi Waseso mengungkapkan stok beras Bulog pada September 2019 mencapai 2,5 juta ton. Ia mengklaim jumlah tersebut cukup hingga tahun depan.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri memastikan bakal menangkap atau memenjarakan para spekulan atau oknum yang kedapatan menimbun sembako terutama saat krisis Corona seperti sekarang ini.

Sebelum jauh ke sana, Satgas Pangan meyakinkan pihaknya juga mengupayakan berbagai langkah pencegahan lainnya seperti berkoordinasi dengan segala pihak terkait data penyebaran pangan itu sendiri.

"Satgas Pangan tentu langsung melakukan penangkapan apabila ada oknum yang melakukan penimbunan tapi kita juga bekerja sama dengan seluruh stakeholder agar pasokan yang ada distribusi terhadap pangan yang ada sampai kepada masyarakat dan masyarakat tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan pangan yang ada," ujar Kepala Satgas Pangan Polri Daniel Tahi Monang Silitonga kepada detikcom, Senin (20/4/2020).

Selain itu, pihaknya juga akan senantiasa melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terutama soal ketersediaan 13 bahan pokok. Ketiga belas kebutuhan pokok ini adalah beras, jagung, sagu, kedelai, garam konsumsi, daging, telur, susu, buah-buahan, sayur-sayuran, ubi-ubian, bumbu-bumbuan, dan gula konsumsi.

"Bekerjasama dengan semua stakeholder baik itu kementerian dan lembaga maupun semua asosiasi serta petani. Kita lakukan rapat secara rutin, baik itu rapat mingguan, bulanan bahkan mungkin rapat-rapat insidentil untuk mengecek ketersediaan 13 bahan pokok," sambungnya.

Lalu, pihaknya juga akan siap mengamankan bahan pokok tersebut terutama bahan pokok yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

"Kemudian adalah mengamankan kebijakan pemerintah terhadap bahan pokok yang tidak bisa di-supply di dalam negeri atau bahan pokok impor, misalnya seperti gula, bawang putih, daging, itu tidak bisa diproduksi dalam negeri semuanya tapi kita bergantung dari impor beberapa persen. Kami mengawasi kebijakan pemerintah, mulai dari pemberian kuota, siapa importirnya, didistribusikan ke mana,kami hadir di situ," paparnya.

Bila kedapatan ada yang importir yang menaikkan harga pangan tersebut di luar ketentuan pemerintah, pihaknya juga siap hadir menindak tegas oknum tersebut.

"Kemudian, saya mengawasi juga apabila para importir yang ditugaskan pemerintah ini mempermainkan harga, misalnya pemerintah menugaskan harga segini dia menambah-nambah atau menaikan secara ugal-ugalan gitu," pungkasnya.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)