Selama COVID-19, Neraca Perdagangan Hasil Perikanan Meningkat

Abu Ubaidillah - detikFinance
Selasa, 21 Apr 2020 22:14 WIB
KKP
Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jakarta -
Badan Pusat Statistik (BPS) menilai neraca perdagangan hasil perikanan di Indonesia pada bulan Maret 2020 mencapai US$ 387,84 juta. Angka tersebut meningkat 3.59% dibanding Februari 2020 dan meningkat 3.71% dibanding Maret 2019.

Jika dijumlahkan, nilai neraca perdagangan pada periode Januari - Maret 2020 mencapai US$ 1,14 miliar. Jumlah ini meningkat sekitar 10.50% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo saat audiensi virtual dengan Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) menyebut data tersebut menunjukkan kinerja ekspor berada dalam kondisi yang menggembirakan.

"Karena dari data ini nilai ekspor mengalami lonjakan yang besar dibanding periode yang sama 2019. Neraca perdagangan positif tumbuh 10,5%," ujar Nilanto dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2020).

Nilanto memaparkan surplus perdagangan tak terlepas dari nilai ekspor hasil perikanan sebesar US$ 427,71 juta pada Maret 2020. Adapun volume ekspor hasil perikanan pada Maret 2020 mencapai 105.20 ribu ton atau meningkat 15.37% dibanding Februari 2020.

Jika dijumlahkan nilai ekspor Indonesia pada Januari - Maret 2020 mencapai US$ 1,24 miliar atau meningkat 9.82% dibanding periode yang sama tahun 2019. Adapun volume ekspor Indonesia pada Januari - Maret 2020 mencapai 295.13 ribu ton atau meningkat 10.96% dibanding periode yang sama tahun 2019.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Januari - Maret 2020 mencapai US$ 103,00 juta. Volume impor pada periode Januari - Maret 2020 mencapai 72.44 ribu ton.

"Dengan kata lain terjadi surplus perdagangan produk perikanan pada bulan Maret atau periode Januari - Maret 2020," sambung Nilanto.

Sebagai informasi, pada periode Januari-Maret 2020 ada 5 negara tujuan utama ekspor produk perikanan yakni Amerika Serikat dengan nilai US$ 508,67 Juta (40.97%). Disusul Tiongkok dengan nilai US$ 173,22 Juta (13.95%). Selanjutnya negara-negara ASEAN dengan nilai US$ 162,29 juta (13.07%), Jepang dengan nilai US$ 143,82 juta (11.59%), serta Uni Eropa dengan nilai US$ 82,05 juta (6.61%).

Menteri Edhy Prabowo yang juga hadir dalam audiensi virtual tersebut mengajak AP5I melihat peluang di balik pandemi COVID-19. Edhy memastikan pemerintah memposisikan diri sebagai partner para pemangku kepentingan di sektor kelautan dan perikanan. Diharapkan melalui kolaborasi tersebut, sektor ini dapat menjadi kekuatan di masa pandemi.

"Saya optimis sektor kita menjadi yang memenangkan itu. Potensi ada, permintaan tinggi. Orang tetap butuh asupan protein, dan itu bisa dipenuhi dari produk perikanan," ujar Edhy.



Simak Video "Menteri KKP Edhy Prabowo Sempat Masuk ICU Gegara Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)