Peluang Bisnis Buat yang Gagal Mudik, Biar Dapur Tetap Ngebul

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 24 Apr 2020 13:01 WIB
Ilustrasi THR
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Mulai hari ini larangan mudik berlaku untuk masyarakat di Jabodetabek, wilayah-wilayah yang menerapkan PSBB, dan juga zona merah lainnya untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19). Selain dilarang mudik, pemerintah juga melarang aktivitas perkantoran atau apa pun yang menyebabkan keramaian. Tentunya, banyak aktivitas mencari nafkah yang terhambat.

Lalu, bagaimana caranya agar masyarakat yang tak bisa mudik bisa tetap berpenghasilan?

Menurut Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus, bisnis makanan dan minuman rumahan paling potensial untuk digarap para warga yang tak bisa mudik.

"Bisa menjual produk makanan saya rasa untuk buka puasa. Untuk konsumsi masyarakat kan nggak semuanya masak sendiri. Tapi tetap akan beli makanan di luar, tapi dari produk-produk rumahan. Ya tetap saja makanan, minuman ini pasti dibutuhkan," kata Heri kepada detikcom, Jumat (24/4/2020).

Selain itu, bisnis parcel rumahan juga bisa jadi garapan potensial saat ini. Ia mengatakan, dengan membuka bisnis parcel online, lalu pengiriman dengan kurir, maka bisa menggantikan aktivitas silaturahmi yang di Lebaran kali ini tak bisa dilakukan.

"Jadi saya rasa bisnis parcel ini akan tetap tumbuh, khususnya menjelang Lebaran. Jadi akan tetap tumbuh seiring dengan katakanlah seseorang itu ingin mengucapkan selamat hari raya kepada kerabatnya, saudaranya, dan lain-lain," papar Heri.

Tak hanya itu, bisnis fesyen juga menurutnya masih berpotensi. Meski tak bisa mudik, atau silaturahmi dengan berkumpul bersama keluarga besar, menurutnya permintaan akan baju Lebaran tak beda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Kemudian juga menjelang Lebaran menurut fesyen tetap akan dibutuhkan oleh masyarakat. Meskipun nanti tidak ada salat Id, kegiatan silaturahmi terbatas, tapi saya rasa permintaan barang akan sama seperti puasa atau Lebaran sebelumnya," pungkas Heri.



Simak Video "Kasus Aktif Covid-19 Indonesia di Bawah Rata-rata Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)