Round-Up 5 Berita Terpopuler

Kim Jong Un 'Manjakan' Sektor Militer, Saham BUMN Berguguran

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 26 Apr 2020 21:01 WIB
Media milik pemerintah Korea Utara melaporkan, Senin (30/3), Korea Utara sukses melakukan uji coba peluncuran roket-roket terbaru sehari lalu.
Foto: AP/
Jakarta -

Negara pimpinan Kim Jong Un, Korea Utara, berada di peringkat No 1 di dunia dalam hal porsi belanja untuk kebutuhan militer dalam produk domestik bruto (PDB) antara 2007-2017.

Menurut laporan Pengeluaran Militer Dunia dan Transfer Senjata Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat tahun 2019 yang dilansir dari Yonhap News Agency, Minggu (26/4/2020), pengeluaran militer Korea Utara rata-rata sekitar US $ 3,6 miliar per tahun atau sekitar Rp 54 triliun (dalam kurs Rp 15 ribu).

Informasi itu jadi salah satu dari deretan berita terpopuler detikFinance hari ini. Ada juga informasi menarik lain yang banyak dibaca yakni soal bergugurannya saham BUMN hingga pasokan beras dan gula sepanjang Ramadhan

Berikut selengkapnya:



Belanja Militer Korea Utara

Menurut laporan Pengeluaran Militer Dunia dan Transfer Senjata Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat tahun 2019 yang dilansir dari Yonhap News Agency, Minggu (26/4/2020), pengeluaran militer Korea Utara rata-rata sekitar US $ 3,6 miliar per tahun atau sekitar Rp 54 triliun (dalam kurs Rp 15 ribu).

Jumlahnya menyumbang 13,4% hingga 23,3% dari rata-rata PDB negara itu sebesar US$ 17 miliar selama periode tersebut atau sekitar Rp 255 triliun selama 7 tahun.

Saham BUMN Berguguran

Sejak diumumkan kasus pertama penderita COVID-19 di Indonesia, pasar modal mengalami gejolak luar biasa. Banyak saham yang terjun bebas, menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun begitu dalam.

Kejatuhan IHSG ini serupa dengan kejadian krisis-krisis sebelumnya. Namun yang berbeda, pada saat pulih nanti, saham-saham BUMN tidak lagi menjadi penggeraknya.

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan menerangkan, kondisi saat ini sedikit berbeda dengan 2020. Saham-saham BUMN diperkirakan tak bisa lagi menjadi penggerak IHSG, malahan pemulihan saham-saham BUMN diprediksi akan lebih lama ketimbang IHSG.

Sebab belakangan ini saham-saham BUMN rata-rata dinaungi sentimen negatif, baik dari segi fundamental maupun rumor. Buktinya rata-rata saham BUMN saat ini kapitalisasinya turun 37,8%, sedangkan saham emiten non BUMN turun sekitar 25,4%.

"saham BUMN memang punya kinerja lebih buruk dibandingkan emiten non BUMN. Jadi dari sisi persepsi lebih berat dalam 5 tahun terakhir. Artinya saham-saham BUMN sulit untuk mengulang seperti di 2007-2008," terangnya.

Percuma Ada Stimulus Rp 1,5 T ke Sektor Properti

Properti menjadi salah satu dari deretan industri yang terkena dampak dari wabah COVID-19. Oleh karena itu pemerintah menyiapkan tambahan insentif perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) sebesar Rp 1,5 triliun.

Pengamat Properti sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menilai bentuk stimulus yang diberikan pemerintah terhadap properti itu salah sasaran.

"Menurut saya stimulus yang diberikan agak salah prioritas. Yang diberikan berupa kuota, kenaikan batas penghasilan dan subsidi bantuan uang muka yang sebenernya tidak ada urgensinya karena itu stimulus untuk membeli properti," tuturnya saat dihubungi detikcom, Minggu (26/4/2020).

Menurut Ali percuma pemerintah memberikan stimulus MBR untuk membeli properti. Dalam kondisi krisis saat ini mereka lebih cenderung mempertahankan penghasilannya dan bertahan hidup.

"Jadi percuma kasih stimulus seperti itu, dampaknya akan sangat kecil," tuturnya.

Stok Beras Aman

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa stok beras akan aman selama wabah Corona. Setidaknya, hingga Mei neraca beras masih akan surplus berjuta-juta ton.

Dia menjelaskan setidaknya kalau dilihat dari 3 opsi mulai dari pesimis, moderat, hingga optimis jumlah stok beras nasional masih aman. Syahrul memperkirakan dengan opsi pesimis saja stok beras nasional masih menyisakan 6 juta ton hingga akhir Mei.

Syahrul menjelaskan stok beras dari Februari ke Mei 2020 masih ada sekitar 3,5 juta ton. Dengan opsi pesimis, dia mengatakan produksi beras sebesar 11,2 juta ton dan kebutuhan nasional 8,3 juta ton. Maka masih ada 6 juta ton di akhir Mei.

"Kalau opsi pesimis diperkirakan masih ada 6 juta sampai akhir Mei 2020. Bulan puasa dan idulfitri masih terkendali," ucap Syahrul dalam rilis video BNPB, Minggu (26/4/2020).

(das/dna)