Pengusaha Transportasi Sudah Jatuh Tertimpa Corona

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 28 Apr 2020 07:34 WIB
Aksi mogok massal sopir bus AKAP di Terminal Singaparna Tasikmalaya.
Foto: Deden Rahadian
Jakarta -

Sektor transporasi darat khususnya angkutan penumpang mengalami tekanan yang berat karena dampak virus Corona. Hal itu ditambah kebijakan pemerintah yang melarang masyarakat untuk mudik.

Sekjen Organisasi Angkutan Darat (Organda) Ateng Haryono menjelaskan, dampak virus Corona sangat terasa ketika pemerintah menyerukan social distancing. Kemudian, dilanjutkan dengan kebijakan menutup tempat pariwisata.

"Jadi bukan larangan mudik dulu, begitu COVID semua langsung parah. Semua langsung turun drastis. Apalagi ketika pemerintah ada seruan social distancing itu sudah turun. Kemudian tempat wisata ditutup, maka angkutan kita moda pariwisata 100% berhenti. Angkutan lain juga, jalan tapi turunnya sampai 90%," jelasnya kepada detikcom, Senin kemarin (27/4/2020).

Kondisi pengusaha semakin sulit. Terlebih, saat pemerintah memutuskan untuk melarang mudik. Hal itu membuat angkutan yang menghubungkan daerah-daerah dengan wilayah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau zona merah berhenti.

"Kemudian larangan mudik kemudian praktis semua area asal PSBB menuju daerah lain betul-betul dibatasi, disekat. Posisi saat ini berhenti ya sudah kalau posisi berhenti mau diapain, terminal tutup, semua tutup meskipun angkutan tidak dalam trayek kayak taksi boleh jalan, meski boleh jalan nggak ada penumpang," paparnya.

Dengan kondisi tersebut, dia menuturkan, rata-rata moda angkutan seperti bus harus masuk depo alias dikandangkan. Hal itu selanjutnya berdampak pada karyawan terutama para sopir bus yang mau tak mau mesti dirumahkan.


"Sekarang kalau nggak jalan berarti dirumahkan bahwa 1-2 korporasi pasti ada skenario pengamanan. Kalau sakadar beras 5-10 kg itu mungkin dilakukan. Tapi kalau berjalannya panjang siapa yang tahan nafasnya. Nggak ada kuat," ujarnya.

"Sekarang kan posisinya istilahnya teman-teman no work no pay. Kan ketika mereka merekrut tak berjalan jangka pendek maunya. Kan ada pembinaan, pendidikan, kalau tiba-tiba semua bubar kan ya semuanya," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Jokowi Sebut PSBB Ganggu Distribusi Kebutuhan Pokok"
[Gambas:Video 20detik]