Pakan Tak Naik, Pembudidaya: Produksi Bisa Bertahan Saat COVID-19

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Sabtu, 02 Mei 2020 18:00 WIB
pakan ikan
Foto: shutterstock
Jakarta -

Sejumlah pembudidaya ikan di wilayah Jawa Timur merespons positif langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan intervensi untuk menekan rencana kenaikan harga pakan ikan oleh sejumlah industri pakan nasional.

Berkat intervensi itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur Tsaqif Inayah mengatakan saat ini harga pakan ikan di Jawa Timur secara umum batal naik, bahkan perusahaan yang semula terlebih dahulu menaikan harga pakan sebelum tanggal 1 April telah mengembalikan ke harga semula.

"Setelah tanggal 20 April kemarin ada harga pakan di beberapa kabupaten yang turun. Tapi ada juga yang masih tetap. Namun yang masih memberlakukan harga lama ini karena memang stok lama di agen masih ada dan mereka beli dengan harga lama," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/5/2020).

"Tapi secara umum harga pakan tidak jadi naik dan yang terlanjur menaikkan, mereka berinisiatif untuk menurunkan harga sesuai arahan dari Menteri Kelautan dan Perikanan," imbuhnya.

Pembatalan kenaikan harga pakan ikan tersebut mendapat respons positif dari para pembudidaya ikan. Mereka menilai dengan harga pakan yang stabil, beban biaya produksi dapat ditekan sehingga masalah inefisiensi produksi bisa terpecahkan.

Pembudidaya ikan di Kabupaten Tulungagung Bangun Adi Wahono menyambut gembira upaya tersebut. Selama ini menurutnya harga pakan kerap menjadi masalah utama yang dihadapi dalam proses produksi mengingat lebih 70% komposisi biaya produksi adalah dari pakan.

"Kami menyambut baik harga pakan tidak jadi naik, melalui upaya ini kami berharap biaya produksi minimal dapat ditekan, dengan begitu nilai tambah masih bisa dirasakan. Utamanya di masa pandemik COVID-19 produksi kami bisa bertahan," ungkap Bangun.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menuturkan KKP akan selalu hadir dalam memberikan solusi terutama di masa kedaruratan seperti saat ini. Pembatalan kenaikan harga pakan merupakan bagian dari peran Pemerintah untuk melakukan intervensi guna memastikan proses produksi tetap berjalan normal.

"Pada kesempatan ini saya menyampaikan apresiasi kepada sejumlah perusahaan pakan nasional atas bentuk kepekaan mereka terhadap kondisi ekonomi para pembudidaya. Kami tahu ini sulit, tapi tentu kami berharap berbagai stimulus ekonomi untuk sektor industri termasuk pakan ini dapat meringankan beban cash flow perusahaan," jelasnya.

"Saya kira di masa darurat yang dibutuhkan adalah kerja sama. Perusahaan pakan dan pembudidaya ini kan ada dalam satu ekosistem bisnis, jadi sepatutnya saling memahami kondisi agar keduanya tetap berjalan. Kami KKP dan Dinas Kelautan dan Perikanan juga akan bersama-sama melakukan pemantauan harga di lapangan melalui tim yang sudah dibentuk," imbuh Slamet.

Presiden Direktur PT Shinta Prima Feedmill Anang Hermanta mengaku sejak awal perusahaannya sudah berkomitmen untuk tidak menaikkan harga pakan di tengah pandemi COVID-19, karena tahu betul situasi ekonomi di kalangan pembudidaya.

"Jadi kami lebih ingin usaha budidaya ini berjalan terus, jangan sampai mandek gara-gara petani rugi atau tidak bisa jual ikannya karena serapan pasar ikan yang rendah. Kalau produksi pembudidaya mandek, maka perekonomian tambah mandek, ada PHK dan pengangguran utamanya dari sub sektor perikanan budidaya. Termasuk pabrik pakan tidak akan ada artinya kalau usaha produksi yang dilakukan pembudidaya mandek," pungkas Anang.



Simak Video "Peternak Lele Blitar Sulap Limbah Ikan jadi Pakan Ternak"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)