Waduh! Manufaktur RI Alami Penurunan Terparah Sejak 2011

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 04 Mei 2020 14:55 WIB
Sri Mulyani
Foto: Angling Adhitya Purbaya
Jakarta -

Penyebaran COVID-19 di Indonesia tak hanya mengganggu kesehatan, tapi juga perekonomian nasional yang diprediksi masih akan tertekan. Hal ini karena belum ada yang bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan pertumbuhan ekonomi domestik berdasarkan Nowcasting kuartal I 2020 diprediksi 4,5-4,7%. Menurut dia dibanding beberapa negara besar kondisi perekonomian Indonesia kuartal I masih lebih baik.

"Namun tetap perlu waspada pada eskalasi tekanan ke depan, mengingat Indonesia pandemi baru terjadi pada Maret dan meluas secara eksponensial bahkan ke wilayah periferi," kata Sri Mulyani dalam rapat virtual dengan Banggar DPR, Senin (4/5/2020).

Dia menjelaskan pertumbuhan ekspor kuartal I tumbuh 2,9% dan impor minus 3,7%. Kontraksi impor ini terjadi karena adanya penurunan impor bahan baku dan barang modal.

Sri Mulyani mengatakan, beberapa indikator yang menunjukkan ekonomi tertekan sejak Maret adalah Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur yang pada April turun 27,5 dibanding periode Maret 45,3. Angka ini terkontraksi di level terendah pada 2011.

Karena itu, pemerintah memiliki skenario berat yakni pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 berada di 2,3%. Kemudian skenario sangat berat -0,4%. "Proyeksi dilakukan berdasarkan skenario mengingat ketidakpastian yang masih tinggi," imbuh dia.

Akibat COVID-19 ini ada sekitar 12.703 penerbangan domestik dan internasional di 15 bandara yang dibatalkan. Kemudian pendapatan di sektor layanan udara menguap Rp 207 miliar.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Februari 2020 juga tercatat minus 30%. Prakiraan penurunan tingkat okupansi hotel dan potensi kehilangan devisa pariwisata mencapai minus 50%.

Lebih dari 1,9 juta pekerja dari 144.340 perusahaan dirumahkan atau di-PHK. Total dengan perkiraan yang belum teridentifikasi dapat mencapai 3 juta orang.



Simak Video "Dampak Covid-19, Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Sangat Berat"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/fdl)