Pertemuan WTO Kian Tak Menentu
Jumat, 16 Des 2005 13:37 WIB
Jakarta - Memasuki hari keempat Konferensi Tingkat Menteri (KTM) VI World Trade Organization (WTO) di Hong Kong, Cina, kebuntuan semakin di depan mata. Belum ada tanda-tanda kemajuan yang berarti dari perundingan antara kelompok negara maju dan negara berkembang. Hal tersebut disampaikan delegasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang diwakili Ketua HKTI bidang Perdagangan dan Koperasi Sutrisno Iwantono dan Ketua HKTI bidang Hubungan Luar Negeri & Organisasi Internasional Fadli Zon. Keduanya menyampaikan langsung hasil pertemuan KTM IV WTO dari Hong Kong melalui penjelasan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (16/12/2005).Sutrisno menilai, perundingan WTO semakin mengarah ke situasi yang tidak menentu. Pertemuan masih didominasi lobi-lobi berbagai negara yang tergabung dalam banyak kaukus seperti G10, G20, G33 yang dipimpin Indonesia, G90 dan berbagai kelompok lain.Ia juga menengarai perundingan WTO dikendalikan oleh kepentingan-kepentingan korporasi multinasional yang secara ketat menjaga kepentingan bisnis mereka.Dalam berbagai pertemuan lobi organisasi-organisasi petani yang diikuti delegasi HKTI, masalah utama yang tetap mengganjal adalah negosiasi pertanian. Menurut Sutrisno, meskipun telah dibahas 12 isu yang berada dalam tiga pilar yakni akses pasar, subsidi domestik dan kompetisi ekspor, namun substansi yang akan dimasukkan dalam teks kesepakatan menteri belum mencapai titik temu. "Konvergensi kemungkinan hanya akan terjadi pada isu paket negara-negara miskin atau terbelakang (LDC) yang menuntut duty free dan quota free access dari negara-negara maju untuk kepentingan ekspor negara-negara itu," katanya. Paket LDC ini dinilai Sutrisno hanya langkah negara-negara maju untuk menghibur negara-negara kecil dan terbelakang, yang belum tentu bermanfaat terutama untuk kepentingan Indonesia. Beberapa komoditas yang punya peluang untuk diberikan kemudahan antara lain adalah pisang, kapas dan gula.
(qom/)











































