Corona Hantam Bisnis Ritel, Pengusaha Siap-siap Gulung Tikar

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 05 Mei 2020 14:30 WIB
Pandemi corona yang melanda dunia turut berdampak pada sektor ritel. Tak sedikit pusat perbelanjaan yang ditutup atau sepi pengunjung akibat COVID-19.
Ilustrasi pusat perbelanjaan sepi gara-gara Corona/Foto: AP Photo
Jakarta -

Pandemi virus Corona membuat banyak perusahaan ritel yang akan mengjukan kebangkrutan. Senin lalu, kebangkrutan pertama peritel di AS diajukan oleh J.Crew.

Para ahli mengatakan J.Crew bukan peritel terakhir yang mengajukan kebangkrutan, karena masih ada yang akan menyusul. Hingga kini beberapa ritel masih menunda pengumuman hingga mereka menutup toko secara permanen.

Banyak pengecer diperkirakan bakal menyatakan bangkrut. JCPenney (JCP) mengungkapkan pada 15 April mereka telah melewatkan pembayaran utang dan mencari opsi-opsi strategis selama 30 hari masa tenggang untuk melakukan pembayaran itu. Menurut laporan yang dipublikasikan, Neiman Marcus juga hampir mengajukan kebangkrutan. JCPenney maupun Neiman Marcus belum mau berkomentar atas berita tersebut.

"Kami jelas melihat banyak perusahaan melibatkan kebangkrutan. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk mengajukan. Banyak perusahaan ditahan karena tidak bisa mendapatkan uang yang dibutuhkan dari penjualan likuidasi," kata Reshmi Basu, sorang ahli kebangkrutan ritel di Debtwire. Dikutip dari CNN, Selasa (5/5/2020).


Pernyataan bangkrut bukan menjadi hukuman mati bagi perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan proses ini untuk menutup operasi yang tidak menguntungkan, mengurangi utang dan kewajiban lainnya dan muncul sebagai perusahaan yang lebih menguntungkan.

Tetapi perubahan tersebut membutuhkan pendanaan selama reorganisasi, dan biasanya membutuhkan pinjaman.

"Secara historis, penjualan penutupan toko sangat penting. Semakin lama toko ditutup, semakin lama barang dagangan didapat, semakin sedikit nilainya. Nilai itu adalah apa yang kreditor lihat," kata Matthew Katz, mitra pengelola di konsultan SSA & Co.

Selain itu, akan lebih sulit bagi pengecer tradisional di bulan-bulan mendatang, karena makin banyak pelanggan yang kehilangan pekerjaan dan menurunkan pembeliannya. Meningkatkan penggunaan belanja online pun tidak membantu.



Simak Video "Warung Diharapkan Tak Cuma Jualan di Kampung, Tapi Berani e-Commerce"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)