Bisnis Kapal Pesiar di Norwegia Ikut 'Diseruduk' Corona

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 06 Mei 2020 09:58 WIB
Kapal pesiar
Ilustrasi/Foto: Dok. Kemenhub
Jakarta -

Virus Corona (COVID-19) telah menggerus berbagai sektor bisnis, salah satunya industri kapal pesiar. Norwegian Cruise Line Holdings memperingatkan para investor bahwa kemungkinan mereka harus keluar dari bisnis, karena mau mengumpulkan uang untuk menghadapi krisis.

Norwegian Cruise berencana meminjam US$ 400 juta atau setara dengan Rp 6,4 miliar (kurs Rp 16.000/US$) dari perusahaan investasi L Catterton melalui uang kertas yang jatuh tempo pada tahun 2026. Dengan pinjaman itu diharapkan bisnis bisa bertahan dari gempuran Corona.

"Industri pelayaran sangat tangguh dalam jangka waktu yang lama. Industri ini telah mengatasi banyak tantangan di masa lalu. Kami berharap bahwa industri ini akan pulih dan berkembang dengan peningkatan lebih jauh pada protokol kesehatan dan keselamatan mereka yang sudah ada di masa depan." kata co-CEO L Catterton, Scott Dahnke dilansir dari CNN Business, Rabu (6/5/2020).

Norwegia juga akan mengumpulkan US$ 1,35 miliar lebih dalam penempatan swasta dari nota lain yang jatuh tempo pada tahun 2024, dan hingga US$ 400 juta lebih melalui penjualan saham tambahan. Dari situ, secara keseluruhan telah memberikan cadangan kas tambahan perusahaan sebesar US$ 3 miliar.

"Ini memperkuat posisi keuangan perusahaan dan memastikan posisi yang baik untuk menahan lebih dari 12 bulan suspensi pelayaran. Walaupun ini bukan ekspektasi kasus dasar perusahaan, perusahaan telah mengambil pendekatan proaktif untuk melindungi masa depannya mengingat ketidakpastian durasi yang tidak diketahui dari pandemi global COVID-19," ucapnya.

Namun investor tidak yakin dengan begitu bisa memulihkan bisnis. Saham Norwegia (NCLH) anjlok 19% di perdagangan pagi setelah pengarsipan. Sedangkan jalur pelayaran lain, seperti Royal Caribbean Cruises (RCL) dan Karnaval (CCL) masing-masing turun setidaknya 4%.

Untuk mengurangi pengeluaran, perusahaan telah melakukan efisiensi dengan merumahkan 20% karyawannya tanpa digaji dan karyawan yang tersisa akan dipangkas gajinya 20%. Pada akhir tahun 2019, perusahaan memiliki 4.000 karyawan di perusahaan dan 32.000 pekerja awak kapal.

Norwegia Cruise telah menghentikan pelayaran di semua armadanya sejak 14 Maret di tengah penutupan industri yang telah diperpanjang sampai 30 Juni. Industri pelayaran terpukul dengan wabah ini. Terlebih lagi ada kasus yang dinyatakan positif terjadi antara penumpang dan awak kapal.

Norwegian Cruise adalah perusahaan yang berbasis di Miami yang mengoperasikan merek Norwegian Cruise Line, Oceania Cruises dan Regent Seven Seas Cruises. Mereka memiliki armada gabungan 28 kapal dengan hampir 60.000 tempat berlabuh. Perusahaan mengatakan masih ingin maju dengan rencana menambah sembilan kapal ke armadanya sampai tahun 2027.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)