Heboh Data di Toko Online Dibobol, Jual Beli di Medsos Lebih Aman?

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 06 Mei 2020 12:35 WIB
Woman in cafe shopping online with laptop
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Data pengguna Tokopedia baru-baru ini diretas oleh oknum tak bertanggung jawab. Lalu muncul informasi jika data Bukalapak juga bocor. Namun menurut Pakar keamanan internet dari Vaksincom Alfons Tanujaya, isu soal Bukalapak merupakan kasus lama.

Kemudian, jika dua e-commerce raksasa tersebut bisa dibobol, apakah belanja via media sosial lebih aman?

Alfons menilai jika berbelanja di e-commerce masih tetap lebih aman karena beberapa faktor. Pertama, kalau kita bertransaksi di media sosial tidak ada 'wasitnya' alias pihak yang mengawasi transaksi agar proses jual-beli tidak saling merugikan.

"Jadi kalau kita lagi apes, (penjual) kabur ya kabur, kita nggak bisa apa-apa," kata dia saat dihubungi detikcom, Rabu (6/5/2020).

"Kedua, data itu kita serahkan sepenuhnya kepada media sosial, nggak ada yang jaga. Lalu ketiga (kalau di media sosial) tidak ada yang ngontrol seller-nya," lanjut dia.

Berbeda halnya dengan di e-commerce, di mana ada sistem yang meminimalkan terjadinya kecurangan, baik yang dilakukan oleh penjual maupun pembeli.

"(e-commerce) ada yang wasitin, dia wasitnya adil gitu lho. Namanya marketplace, yang jualnya benar nggak kirim barang? dia lihat berdasarkan bukti. Yang beli benar nggak kirim duit? Nah dia harus belain yang benar. Bukan belain penjual, bukan belain pembeli. Itu yang kita perlukan sebenarnya," jelasnya.

Namun dirinya tidak melarang konsumen bertransaksi di media sosial. Akan tetapi jangan dijadikan sebagai wadah utama melainkan sebagai alternatif.



Simak Video "Tokopedia Jawab Soal Kebocoran 15 Juta Data Pengguna"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/ara)