Musim Kemarau di Tengah Corona, Pemerintah Harus Apa Nih?

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 08 Mei 2020 11:58 WIB
Hamparan sawah terlihat kering di Kawasan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (23/8/2019).
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pengamat Pertanian dari The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rusli Abdullah menyebut musim kemarau atau musim kekeringan di tengah pandemi Corona (COVID-19) akan menyebabkan defisit pada beberapa komoditas pangan pokok di Indonesia.

"Agustus atau September biasanya surplus produksinya, jika ada kekeringan, bisa minus," ujar Rusli kepada detikcom, Jumat (8/4/2020).

Defisit pangan paling rentan terjadi pada komoditas beras. Tanpa musim kekeringan saja, menurut Rusli dapat mengakibatkan defisit beras hingga 700 ribu ton per bulan. Apalagi ditambah dengan musim kering yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan.

"COVID-19 ini saja sudah membuat distribusi logistik itu terganggu, terutama beras, aktivitas ekspor impor beras terganggu, misalnya India, Vietnam dan Thailand itu sudah mendeklarasikan bahwa mereka tidak akan mengekspor berasnya selama pandemi ini. Kalau seandainya itu terjadi Indonesia ada ancaman di akhir tahun, Oktober sampai Desember bahkan Januari itu kita defisit beras. Produksi kita 1,6 juta tapi konsumsinya 2,5 juta ada gap sekitar 700 ribu ton per bulan," tuturnya.

Lalu, apa saja upaya yang perlu diambil pemerintah untuk mengantisipasi dampak kekeringan tersebut?

Menurut Rusli hal utama yang wajib dilakukan pemerintah adalah melobi ketiga negara pengekspor beras tersebut agar mau tetap mengekspor berasnya ke Indonesia.

"Pemerintah harus melobi Thailand, Vietnam dan India agar mau ekspor beras ke Indonesia," imbuhnya.

Selain itu, pemerintah harus gencar memperkenalkan sumber karbohidrat lain selain beras ke masyarakat luas agar ketergantungan terhadap komoditas pangan satu ini.

"Mulai sekarang kita harus mempersiapkan diversifikasi sumber karbohidrat selain beras. Jadi pemerintah dan dunia usaha harus menyediakan sumber karbohidrat lain selain beras, apa saja yaitu jagung, singkong dan sagu. Penyediaan sumber beras selain karbohidrat ini bagus, sebab masyarakat bisa punya opsi lain selain beras. Dalam jangka panjang dengan ada sumber karbohidrat selain beras ini akan mengurangi ketergantungan kita terhadap beras," pungkasnya.



Simak Video "Duh! Warga Cianjur Temukan Butiran Plastik dalam Beras Bansos"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)