Lokasi Cetak Sawah Baru di Kalimantan yang Diincar Jokowi

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 12 Mei 2020 08:15 WIB
Petani di Kecamatan Polanharjo masih ada yang panen padi
Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Dikritik Pengamat

Sejumlah pengamat dan akademisi pertanian menilai langkah Jokowi ini tak tepat untuk menjawab prediksi krisis pangan dari FAO. Bahkan, Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) periode 2010-2011 menilai rencana itu punya risiko kerusakan ekologis yang besar.

"Gambut itu punya sensitivitas ekologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan lahan lain, misalnya vulkanis kering. Artinya ya jangan sampai membuka lahan gambut itu, mengorbankan aspek-aspek ekologis tadi yang dampak lingkungan yang lebih serius," ungkap Bayu ketika dihubungi detikcom, Jumat (8/5/2020).

Ia sendiri memahami dengan prediksi FAO pemerintah tak bisa santai saja dalam mengelola pertanian. Namun, menurutnya mengambil langkah optimalisasi lahan gambut merupakan langkah yang 'terburu'buru'.

"Yes ada warning dari FAO, yes itu serius, kita tidak bisa berleha-leha, berlebih-lebih dengan makanan kita. Kita harus sangat cermat, sangat aware, sangat memantau dengan sangat baik. Tetapi juga nggak perlu dengan itu kemudian menabrak ekosistem kan juga enggak. Kemudian kita melupakan kesalahan-kesalahan masalah lalu kan juga enggak," tegas dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4


Simak Video "Jokowi Pimpin Upacara Peringatan Hari Pramuka Ke-59 di Istana"
[Gambas:Video 20detik]