Karena Corona, Toko Ritel AS Menghitung Hari Menuju Kebangkrutan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 12 Mei 2020 10:30 WIB
Keganasan virus Corona terus menelan korban jiwa di Amerika Serikat. Negeri itu mencatat 1.514 kematian terkait virus Corona dalam waktu 24 jam terakhir.
Foto: AP/Wong Maye-E
Jakarta -

Salah satu peritel asal Amerika Serikat (AS) JCPenney tinggal menghitung hari menuju kebangkrutan. Pasalnya, saat ini hanya sedikit toko-toko yang bisa beroperasi kembali.

Selain JCPenney peritel lain seperti Neiman Marcus dan J.Crew juga telah mengajukan kebangkrutan. Kemudian diikuti Stage Storage yang saat ini mengoperasikan toko bealls, Goody's, Palais Royal, Peebles, Stage dan Gordmans.

JCPenney tak mampu membayar utang jatuh tempo pada 15 April sebesar US$ 12 juta. Kemudian jatuh tempo kedua sebesar US$ 17 juta. Tenggat waktu yang harus diselesaikan manajemen akan berakhir pada Kamis dan Jumat pekan ini.

Dalam keterangannya, JCPenney menyebut telah mengambil langkah tidak membayar bunga dan bernegosiasi dengan pemberi fasilitas pinjaman.

"JCPenney telah bicara dengan pemberi utang sejak pertengahan 2019. Hal ini dilakukan untuk evaluasi neraca keuangan kami selama ini. Apalagi selama pandemi ini toko-toko kami tutup tak beroperasi," tulis keterangan tersebut dikutip dari CNN Business, Selasa (12/5/2020).

Selain utang jatuh tempo, JCPenney juga memiliki utang jangka panjang sebesar US$ 3,6 miliar untuk laporan 1 Februari 2020. Pada Senin saham JCPenney merosot hingga 8% dan menjadi kurang dari 16 sen per saham.

Sepanjang tahun saham peritel ini jeblok hingga 86%. Angka terendah yang pernah terjadi di Bursa Efek New York selama ini.

Sebelumnya JCPenney memang telah mengumumkan rencana penutupan toko selama bertahun-tahun. Sejak 3 tahun lalu ada 1.000 toko yang sudah ditutup. Saat ini masih ada sekitar 850 toko dengan 90.000 pegawai.



Simak Video "Akrab dengan Kim Jong-un, Trump: Bagus Dong!"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)