Sri Mulyani: Investor Memindahkan Asetnya ke Emas dan Dolar AS

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 12 Mei 2020 16:30 WIB
Pemerintah menaikkan pajak impor barang konsumsi. Pengumuman kenaikan pajak impor barang konsumsi itu dilakukan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Istimewa/Kementerian Keuangan
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan banyak investor yang menarik uangnya dari pasar keuangan dan mengalihkannya ke aset yang lebih aman seperti emas dan dolar Amerika Serikat (AS).

Pemindahan aset keuangan ini terjadi karena Corona alias COVID-19 yang membuat investor panik sekaligus cemas oleh pergerakan pasar keuangan, termasuk di Indonesia.

"Tingkat kecemasan investor di pasar saham menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah," kata Sri Mulyani dalam rapat Paripurna DPR, Jakarta, Selasa (12/5/2020).

Seperti Indonesia, Sri Mulyani menyebut telah terjadi aliran modal keluar alias capital outflow sebesar Rp 145,28 triliun selama Januari-Maret 2020. Realisasi itu bahkan lebih besar dibandingkan taper tantrum 2013 dan krisis keuangan global 2008. Da menyebut arus modal keluar pada krisis keuangan global sebesar Rp 69,9 triliun dan taper tantrum sebesar Rp 36 triliun.

"Investor mencari aset yang aman, memindahkan aset keuangannya ke safe haven assets, yaitu emas dan dolar," ujarnya.

"Angka arus modal keluar di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan dengan periode krisis keuangan global tahun 2008 dan taper tantrum 2013," tambahnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengaku Corona telah membuat banyak negara mengambil langkah-langkah ekstrem seperti penurunan aktivitas manusia secara drastis dari pembatasan sosial, larangan perjalanan, penutupan perbatasan, penutupan sekolah, kantor, dan tempat ibadah.

Hal ini yang berdampak besar terhadap perekonomian termasuk pasar keuangan. Sebab aktivitas ekonomi terganggu dari dua sisi sekaligus, baik dari sisi permintaan maupun dari penawaran.

"Tingkat konsumsi tertekan, tingkat produksi terkendala, dan rantai pasok global terganggu, semua itu berujung pada penurunan output global yang sangat besar," ungkapnya.



Simak Video "Nasib Omnibus Law Kini di Tangan DPR"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/ara)