Putra Mahkota Arab Saudi Dibikin Pusing Harga Minyak Anjlok

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 13 Mei 2020 10:47 WIB
Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman speaks during the Future Investment Initiative Forum in Riyadh, Saudi Arabia October 24, 2018.  Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.
Foto: Dok. Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS
Jakarta -

Belakangan, Arab Saudi telah mengambil banyak langkah drastis demi menopang keuangan negaranya setelah jatuhnya harga minyak akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Hal ini diyakini berisiko besar menggagalkan rencana besar Putra Mahkota Mohammed bin Salman yang dikenal sebagai Visi Saudi 2030.

Eksportir minyak terbesar dunia ini, baru saja mengumumkan serangkaian langkah-langkah untuk menghemat pengeluaran negaranya. Di antaranya adalah dengan mengurangi secara drastis bantuan uang tunai kepada warga Arab Saudi dan menaikkan tiga kali lipat tarif pajak penjualan mereka menjadi 15% mulai Juli mendatang.

Langkah-langkah itu dianggap dapat membantu menyumbat lubang pengeluaran anggaran pemerintah, sekaligus menambah pendapatan hingga hampir 8% dari output ekonomi tahunan Arab Saudi ketika dikombinasikan dengan pemotongan pengeluaran yang diumumkan awal tahun ini.

Pada saat yang sama, pemerintah Arab Saudi mengumumkan bahwa mereka akan memperdalam pengurangan produksi minyaknya sebesar 1 juta barel per hari pada Juni mendatang. Kebijakan ini diambil mengingat selama pandemi permintaan terhadap minyak mentah memang mengalami penurunan drastis sehingga membuat harganya pun anjlok sampai memecahkan rekor. Sampai-sampai membuat laba bersih Saudi Aramco, perusahaan minyak negara Arab Saudi turun 25% pada kuartal I-2020 ini.

Padahal, Arab Saudi sangat ketergantungan dengan harga minyak tersebut. Sehingga, untuk memulihkan ekonomi negara, Arab Saudi butuh kenaikan harga minyak hingga dua kali lipat dari harga biasanya untuk menyeimbangkan anggarannya yang besar, meliputi pengeluaran sosial dan militer.

Kekurangan-kekurangan ini lah yang akhirnya berpotensi memaksa putra mahkota untuk memikirkan kembali rencana Visi Saudi 2030 nya untuk mendiversifikasi ekonomi negara dengan beberapa proyek pariwisata serta ambisi kota futuristiknya tersebut.

"Ini benar-benar mengerikan karena upaya diversifikasi belum membuahkan hasil, bahkan belum dimulai dengan sungguh-sungguh dan itu menjadi jauh lebih sulit untuk dilakukan sekarang daripada dengan menghadapi perang," ujar Peneliti Senior dari Pusat Kebijakan Energi Global Columbia University Christof Ruhl dikutip dari CNN Business, Rabu (13/5/2020).

Menurutnya, pemerintah Arab Saudi bakal kesulitan untuk membelanjakan anggarannya pada proyek-proyek padat modal yang tertuang dalam Visi Saudi 2030 itu termasuk untuk membangun kota futuristik di Laut Merah, NEOM.

Saat ini, cadangan devisa Arab Saudi turun sebanyak US$ 26 miliar di bulan Maret lalu. Penurunan bulanan ini adalah yang paling tajam yang pernah tercatat dalam keuangan Tanah Dua Masjid Suci ini. Sehingga, cadangan saat ini berdiri di level US$ 465 miliar, turun dari capaian terbesar sebelumnya yang sebesar US$ 750 miliar. Penurunan awal tahun ini menyebabkan bank sentral mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa riyal Saudi akan dipatok terhadap dolar AS.



Simak Video "Harga Minya Dunia Anjlok, Jokowi: Manfaatkan Peluang Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)