Mengenang Kejayaan Petani Cengkeh Sebelum Reformasi di Perbatasan RI

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Kamis, 14 Mei 2020 11:01 WIB
Anambas
Foto: Alfi Kholisdinuka
Anambas -

Kepulauan Anambas menjadi salah satu kabupaten yang memiliki keunikan tersendiri karena 85% dari wilayahnya merupakan laut. Penduduknya pun tersebar di 26 pulau dari 255 pulau yang ada, di antaranya Pulau Siantan, Pulau Matak, Pulau Jemaja, dan masih banyak lagi.

Secara geografis Anambas berada di Laut Natuna yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan yang jika diambil garis lurus dari Barat ke Timur sudah melewati Singapura dan sebagian daratan Malaysia di bawahnya. Tentunya sebagai orang pulau, warga Anambas sangat bergantung pada hasil laut dengan menjadi nelayan.

Kendati demikian, berbeda dengan Ahmad, pria yang kini berusia 68 tahun ini sejak kecil tidak pernah menjadi nelayan. Masa muda dan dewasanya ia habiskan bekerja sebagai kuli bangunan hingga beralih menjadi petani cengkeh.

"Saya sudah lama memang jadi petani cengkeh macam nih, 20 tahun lebih lah sejak tahun 96 dulu. Kebun saya masih di Pulau Kelanga," ujarnya dengan logat melayu kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Menurut Ahmad tahun 1980 hingga 1990 saat dirinya masih menjadi kuli bangunan menjadi masa keemasan cengkeh. Alasannya pola perdagangan melalui orang China sudah masuk ke Anambas melalui jalur pelayaran China-Singapura-Anambas.

"Dulu cengkeh ini jaya tahun 90-an, karena China-China pada suka ke sini sama macam rempah-rempah nih, tapi orang masih sikit (sedikit) jadi pekebun," ungkapnya.

AnambasPekebun cengkeh, Ahmad/Foto: Alfi Kholisdinuka

Pada masa sebelum reformasi tersebut, harga jualnya pun terbilang sangat tinggi, sehingga dia tertarik menjadi petani cengkeh dan menjalaninya sampai sekarang.

"Dulu itu per kilonya Rp2.000 sampai Rp3.000, saya bisa sampai jual 50 kg, itu besar untungnya," katanya.

Bahkan dari kerja kerasnya menjadi petani cengkeh tersebut, Ahmad mampu menguliahkan empat orang anaknya ke Tanjung Pinang dan Batam hingga menjadi guru di sana.

"Ya Alhamdulillah, kerja keras dulu dari cengkeh nih bisa kuliahkan empat anak, sekarang tiga kerja jadi guru, tinggal satu masih kuliah," ucap Ahmad bangga.

Namun lain dulu lain sekarang, usaha cengkeh Ahmad pun kini tidak semulus seperti masa sebelumnya. Terlebih kondisi usia yang sudah mau menginjak kepala tujuh mengharuskannya lebih banyak di rumah.

Harga jual cengkeh saat ini di Anambas, kata Ahmad hanya Rp 60.000 per kg, padahal sebelumnya pernah berkisar Rp 75.000 per kg. Kendati harganya sudah menurun jumlah pembeli cengkeh kini tetap tak menentu.

"Sekarang ini cengkeh paling mahal Rp 60 ribu, saya terakhir jual 100 kg, itu dapat Rp 5 juta, tapi itu yang belinya tak tentu, belum dipotong upah orang panjat kebun per kilo Rp10 ribu," tuturnya.

"(Tapi) saya tetap bersyukur bisa merasakan masa jaya cengkeh di Anambas nih," jelasnya.

Dia mengaku sebagian besar kehidupan keluarganya kini ditanggung oleh anak pertama. Kendati demikian ia masih punya tabungan yang disimpan di BANK BRI Unit Tarempa yang nanti digunakan untuk keperluan hal mendesak.

"Ya ada tabungan hasil cengkeh nih di BANK BRI tidak banyak, tapi cukup, yang penting aman untuk ke depan," ucapnya sambil tersenyum.

Sebagai informasi, BANK BRI hadir di kepulauan terdepan untuk memudahkan akses perbankan masyarakat pesisir. Tidak hanya berada di Pulau Siantan, BANK BRI juga menjangkau pulau-pulau kecil lainnya dengan Teras BRI Kapal sebagai penjaga kedaulatan rupiah di Kepulauan Anambas.



Simak Video "BRISPOT Solusi Layanan Terintegrasi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)