RI Diprediksi Impor 2 Juta Ton Beras Tahun Ini

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 14 Mei 2020 13:05 WIB
Beras impor masih menjadi salah satu sumber untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor beras pada Februari 2015 adalah 7.912 ton atau senilai US$ 3,1 juta. Pekerja mengangkat karung beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (2/4/2015).
Ilustrasi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pengamat pertanian sekaligus Wakil Ketua Umum Persatuan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bustanul Arifin memprediksi akan terjadi titik krisis pasokan beras pada akhir tahun 2020 karena potensi kekeringan dari kemarau panjang. Oleh sebab itu, ia juga memprediksi akan ada impor beras hingga 2 juta ton di tahun 2020 ini.

Hal itu ia sampaikan dalam poin-poin rekomendasi dan reposisi kebijakan pangan terhadap pemerintah dalam sebuah webinar yang juga dihadiri oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) dan Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Dalam poin-poin usulannya, ia menuliskan impor beras dapat dilakukan 1,5-2 juta ton untuk mengisi stok cadangan beras pemerintah (CBP). Menurutnya, kontrak impor perlu segera dilakukan agar beras masuk secara bertahap.

"Saya kira 2020 akan ada impor lagi, kalau tidak jangan main-main di situ," ungkap Bustanul dalam webinar pangan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Kamis (14/5/2020).

Menurutnya, di November 2020 hingga Januari 2021 Indonesia akan mengalami krisis pasokan beras. Namun, prediksi itu diungkapkannya dengan pertimbangan wabah Corona segera berakhir di pertengahan 2020.

"Itupun kalau COVID-19-nya selesai Agustus 2020. Produksi beras itu turun 7,7% dari 2018-2019. Kemungkinan 2020 turun lagi," ungkap Bustanul.

Lebih lanjut, menurutnya krisis stok beras ini akan memberikan dampak lebih pada harga. Padahal, harga beras medium sendiri sejak tahun 2019 sudah mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Ia menuturkan, pada April 2020 lalu harga beras medium di tingkat pedagang mengalami kenaikan 1,73% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019, atau naiknya ini menjadi Rp 11.750/kg.

Sementara, menurut Peraturan Menteri Perdagangan nomor 57 tahun 2017 harga eceran tertinggi (HET) beras medium untuk wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan (Sumsel), Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi adalah Rp 9.450/kg. Sedangkan, untuk wilayah Sumatera selain Sumsel, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kalimantan, HET beras medium Rp 9.950/kg. Kemudian, untuk wilayah Maluku dan Papua, HET beras medium Rp 10.250/kg.

"Marginnya antara harga gabah dan beras itu Rp 6000/kg," pungkasnya.



Simak Video "Duh! Warga Cianjur Temukan Butiran Plastik dalam Beras Bansos"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)