70.000 Ton Gula 'Raib' Bikin Stok di Ritel Langka

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 14 Mei 2020 14:43 WIB
Harga Gula di Surabaya Naik
Ilustrasi/Foto: Esti Widiyana
Jakarta -

Ketersediaan stok gula dalam negeri ternyata masih sulit ditemukan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengungkapkan peritel modern yang diwajibkan menjual gula dengan harga tak melebihi Rp 12.500 per kilogram (kg), di saat harga gula di seluruh Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan, sangat kesulitan memperoleh pasokan gula.

Padahal, pemerintah sudah menetapkan impor gula kristal mentah (raw sugar) yang akan diolah menjadi gula kristal putih (GKP) hingga ratusan ribu ton. Begitu juga dengan impor GKP yang ditugaskan kepada 3 BUMN sebanyak 150.000 ton.

Tak hanya itu, pemerintah juga sudah menetapkan kebijakan pengalihan 250.000 ton gula rafinasi untuk dikonsumsi. Namun, menurut Roy realisasinya di lapangan tak semulus semua rencana tersebut.

Ia pun membeberkan upaya Aprindo memperoleh pasokan dari gula rafinasi tersebut. Menurutnya, pada Rabu (22/4) lalu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menemukan 160.000 ton gula rafinasi masih tersedia di para produsen yang tergabung dalam Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI).

"Akhirnya ada satu jalan bahwa ada kelebihan proses gula rafinasi itu yang buat industri makanan dan minuman, itu ada alokasi kelebihan 160.000 ton," kata Roy dalam webinar pangan BPKN, Kamis (14/5/2020).

Namun, ketika pihaknya melanjutkan proses untuk memperoleh 160.000 ton tersebut, AGRI mengatakan stok yang tersedia hanyalah 93.000 ton. Ia pun terkejut dalam 2 hari saja sekitar 70.000 ton gula rafinasi menghilang atau 'raib'.

"Nah prosesnya ternyata, dari 160.000 ton itu ternyata hanya tinggal 93.000 ton. Dalam waktu 2 hari, hilang gulanya hampir sekitar 70.000 tidak tahu ke mana," ungkap Roy.

Klik halaman berikutnya >>>

Parahnya lagi, ketika pihaknya berusaha memperoleh keseluruhan stok gula rafinasi 93.000 ton tersebut untuk dipasok ke ritel-ritel modern, kesepakatan yang diperoleh hanyalah 30.000 ton.

"Dengan 93.000 ton akhirnya kami coba untuk melakukan kerja sama dan kenyataannya itu tidak bisa disuplai secara total, akhirnya kita hanya minta 30.000 ton untuk kebutuhan 1 bulan ini," papar dia.

Hal inilah yang menyebabkan gula-gula di ritel modern, baik di Alfamart dan Indomaret masih sulit ditemukan.

"Artinya guyuran gula cuma 20-25% dari total yang kita harapkan. Ini yang membuat gerai-gerai ritel modern kami untuk melayani kebutuhan masyarakat di tengah pandemi ini sulit sekali untuk menyediakan gula, Indomaret, Alfamart dan sebagainya. Nah sementara kelebihan gula tadi itu kita tidak tahu ke mana gulanya," tutur dia.

Selain gula rafinasi, pihaknya sudah mengajukan untuk membeli stok GKP dari para produsen atau pabrik gula (PG) dan juga importir. Namun, menurutnya para pelaku tersebut lebih memilih menjual ke pasar tradisional. Pasalnya, di pasar tradisional masih bisa menjual harga gula di atas harga acuan Rp 12.500/kg.

"Mereka lebih menguntungkan menjual ke pasar tradisional dengan harga jual di sana itu Rp 18.000-22.000/kg sekarang. Sementara kami hanya Rp 12.500/kg, harga kesepakatan kami sudah jelas membeli dari pabrik gula sesuai dengan Permendag 58 adalah Rp 11.900/kg, mereka jual ke kita Rp 13.000-14.000/kg," pungkas Roy.

(ara/ara)