Dampak Corona ke Investasi, Bahlil: Sistemik, Masif, dan Terstruktur

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 15 Mei 2020 07:02 WIB
Pengembalian Uang Korupsi Samadikun

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Toni Spontana (tengah) menyerahkan secara simbolis kepada Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto (ketiga kanan) uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) dengan terpidana Samadikun Hartono di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (17/5/2018). Mantan Komisaris Utama PT Bank Modern Samadikun Hartono terbukti korupsi dana talangan BLBI dan dihukum 4 tahun penjara serta diwajibkan mengembalikan uang yang dikorupsinya sebesar Rp 169 miliar secara dicicil. Grandyos Zafna/detikcom

-. Petugas merapihkan tumpukan uang milik terpidana kasus korupsi BLBI Samadikun di Plaza Bank Mandiri.
Foto: grandyos zafna
Jakarta -

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan virus Corona telah membuat dampak yang sistemik, masif, dan terstruktur kepada perekonomian global. Tak terkecuali Indonesia.

Dia menilai Corona telah meluluh lantahkan sendi-sendi perekonomian dunia. Bahlil menyebut saat ini adalah saat yang tidak enak untuk semua orang di dunia.

"Terkait persoalan investasi di tengah COVID, ini adalah fase membuat tidak enak semua orang di dunia. Ini berdampak sistemik, masif, dan terstruktur. Jadi tidak hanya politik saja, tapi berkat COVID ekonomi begitu juga," ujar Bahlil dalam webinar bersama Sandiaga Uno, Kamis malam (14/5/2020).

"COVID ini telah meluluh lantahkan sendi ekonomi di semua negara termasuk Indonesia," lanjutnya.

Bahkan, karena Corona Bahlil sudah pesimis target realisasi investasi di tahun ini tidak akan mencapai target sebesar Rp 886 triliun. Saat ini dia sedang mengevaluasi untuk menurunkan target realisasi investasi tahunan.

"Target realisasi 2020 sebenarnya itu Rp 886 triliun. Tapi kami meyakini bahwa ini nggak akan tercapai, malah Triwulan II akan ada penurunan besar dan dalam sekali. Sekarang, kita lagi evaluasi target realisasinya mau direvisi," jelas Bahlil.

Dia memaparkan realisasi penanaman modal asing (PMA) saja sudah merosot di Triwulan I. Dia menjelaskan selama tiga bulan pertama tahun 2020 realisasi investasi menyentuh angka Rp 210,7 triliun.

Jumlahnya lebih banyak penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 112,7 triliun atau sekitar 53%, sementara PMA-nya cuma Rp 98 triliun atau sekitar 46,5%.

"Kajian mendalam kita ini dampaknya ke FDI kita, kita menemukan di satu titik di PMA kita menurun," ungkap Bahlil.

Namun Bahlil mengaku tak mau melulu mengeluh, saat ini pihaknya justru fokus untuk menggenjot realisasi investasi dalam negeri. Dia mengatakan pihaknya sedang fokus memberi kemudahan para investor dalam negeri.


"Nah maka sekarang kita mau genjot PMDN kita. Kita asistensi pengusaha dalam negeri untuk lakukan hal yang belum maksimal selama ini, kesulitannya apa, mau insentif apa," kata Bahlil.

Sektor apa saja yang masih menjanjikan?

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Ingin Investasi di Tengah Pandemi? Ini Tips dari Sandiaga"
[Gambas:Video 20detik]