Data Impor Beras Diputuskan DKP

Cuma Defisit 25 Ribu Ton

Data Impor Beras Diputuskan DKP

- detikFinance
Senin, 19 Des 2005 15:52 WIB
Jakarta - Simpang-siur data impor beras yang digunakan antara Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Perdagangan (Depdag), Departemen Pertanian (Deptan) dan Bulog akhirnya bisa terselesaikan. Untuk pengadaan impor beras diputuskan yang digunakan adalah data Dewan Ketahanan Pangan (DKP).DKP membeberkan bahwa saat ini Indonesia ternyata hanya kekurangan beras alias defisit 24.929 ton (25 ribu ton). Lebih kecil dibandingkan data yang dikeluarkan BPS yang sekitar 50 ribu ton.Demikian hasil keputusan rapat teknis DKP dengan BPS, Depdag, Deptan dan Bulog di Gedung Deptan, kawasan Ragunan, Jakarta, Senin (19/12/2005). DKP ini secara struktural dipayungi langsung oleh presiden dengan ketua harian DKP Menteri Pertanian Anton Apriantono.Anton menjelaskan, berdasarkan asumsi data DKP, kebutuhan beras tahun 2005 sebesar 139,15 kilogram per kapita per tahun.Maka dengan jumlah penduduk 219,898 juta orang, kebutuhan beras lokal mencapai 30.599.356 ton. Sementara produksi beras untuk konsumsi 30.574.428 ton atau terjadi defisit 24.929 ton.Menurut Anton, angka defisit 25 ribu ini tidak masalah karena sudah ditutupi dengan carry over beras di tahun 2004. Ditambah impor 70 ribu ton oleh Bulog belum lama ini yang mengakibatkan persediaan sudah lebih dari cukup."Dengan ini kami menyatakan, angka yang dipakai adalah angka ini. Hanya satu data, apapun risikonya, angka ini tetap yang digunakan," tegas Anton.Mengenai perbedaan data yang cukup signifikan dengan BPS, Anton menilai, seharusnya lembaga survei ini melakukan update parameter perhitungan baru. Pasalnya, parameter yang digunakan BPS masih menggunakan perhitungan tahun 1996.Sementara itu, untuk produksi gabah kering giling (GKG) berdasarkan angka ramalan (aram) III tahun 2005 sebesar 53.984.590 ton terdiri dari penggunaan GKG mencapai 3.940.875 ton. Serta GKG yang diolah menjadi beras mencapai 50.043.715 ton.Untuk produksi beras dalam negeri yang dikonversi sebesar 63,2 persen atau setara dengan 31.627.628 ton. Sedangkan untuk penggunaan beras bukan makanan sebesar 1.053.200 ton.Mengenai prediksi produksi dan konsumsi beras 2006, menurut Anton, Deptan masih melakukan proses penghitungan dan belum pada satu kesimpulan. Artinya, ujar Anton, pihaknya masih belum menyatakan untuk impor beras pada tahun depan."Buka tutup impor evaluasinya selama 6 bulan, jadi misalnya untuk impor Juni evaluasi dilakukan sejak Desember," tutur Anton.Sedangkan data selama ini menunjukkan untuk enam bulan pertama 2006, Indonesia masih tidak perlu impor beras, karena pada bulan Maret terjadi kelebihan panen."Biasanya ramai ingin diadakan impor pada akhir tahun antara November sampai Januari karena produksi kurang dari konsumsi," katanya.Sementara Dirut Bulog Widjanarko Puspoyo yang juga hadir mengatakan, stok Bulog hingga 15 Desember 2005 termasuk di dalamnya impor 70 ribu ton jumlahnya mencapai 1,088 juta ton.Angka ini, menurut Widjanarko, masih akan berkurang dengan keluarnya beras raskin sekitar 100 ribu ton dan beras untuk TNI-Polri. Harga beras nasional jenis medium saat ini rata-rata Rp 3.817 per kilogram. (ir/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads