Hasil WTO, Pengurangan Subsidi Setengah Hati
Senin, 19 Des 2005 17:16 WIB
Jakarta - Kesepakatan Uni Eropa mencabut kebijakan subsidi pertanian ekspor pada tahun 2013 dalam pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) di Hong Kong dinilai masih setengah hati.Pasalnya, negara maju masih mencoba mengulur waktu yang lebih lama dari keinginan negara berkembang pada tahun 2010. Serta belum adanya kesepakatan berapa besar pengurangan subsidi tersebut tiap tahunnya.Kesepakatan pencabutan subsidi itu seperti disampaikan dalam pertemuan WTO di Hong Kong yang berakhir Minggu kemarin 18 Desember."Hasil WTO yang menghasilkan pengurangan subsidi ekspor buat kita menguntungkan. Tapi masih cukup lama realisasinya. Perlu negosiasi dan perjuangan berapa besar pengurangan per tahunnya," kata Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono di Gedung Departemen Pertanian, Jalan Ragunan, Jakarta, Senin (19/12/2005).Menurut Anton, konsep dari negara G-33 (negara berkembang) mengenai special product (SP) dan special safeguard mechanism (SSM) yang bisa diterima dalam forum tingkat menteri WTO itu, merupakan langkah maju yang bersyarat, meskipun masih harus menunggu detilnya."Secara umum bisa dikatakan hasil WTO di Hong Kong merupakan langkah maju karena bisa beri keuntungan, di lain pihak keberhasilan yang bersyarat karena tergantung hasil negosiasi selanjutnya," ujar Anton.
(ir/)











































