Bos KAI Bicara Tarif Kereta Jarak Jauh, Mau Naik?

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 23 Mei 2020 05:00 WIB
Sejumlah petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta beserta petugas PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberi salam pada rangkaian kereta api luar biasa relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi lintas selatan yang berangkat di Stasiun Gambir, Jakarta, Selasa (12/5/2020). PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengoperasikan kereta api luar biasa (KLB) jarak jauh untuk melayani penumpang yang dikecualikan sesuai aturan pemerintah dengan penerapan protokol pencegahan COVID-19 yang ketat hingga 31 Mei 2020 mendatang. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.
Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta -

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Didiek Hartantyo mengungkapkan rencana menaikkan tarif kereta api (KA) khususnya jarak jauh. Rencana itu masuk dalam skenario new normal yang akan diterapkan perusahaan.

Didiek mengatakan ada dua skenario new normal yang akan diterapkan Perseroan. Skenario ini berhubungan langsung dengan okupansi atau tingkat keterisian penumpang dalam satu rangkaian KA.

"Kalau okupansi hanya 50%, maka kami akan ada penyesuaian tarif," kata Didiek dalam paparannya via video conference, Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Skenario new normal khususnya pada penumpang akan diberlakukan dua opsi, yaitu sesuai protokol kesehatan atau social distancing dan yang kedua menerapkan normal namun memberikan alat pelindung diri (APD) lengkap sekaligus face shield atau pelindung wajah kepada penumpang.

Untuk skenario yang biasa atau full, Didiek mengungkapkan para penumpang nantinya akan di tes suhu setiap tiga jam sekali, dan petugas akan membersihkan alat-alat yang mudah dipegang penumpang seperti gagang pintu dan lainnya setiap 30 menit sekali.

"Kami sedang menyiapkan, dan kami nanti akan melihat new normal ini sesuai arah kebijakan pemerintah, relaksasi daripada protokol kami ikuti. Jadi kami menyiapkan skenario-skenario tergantung level relaksasinya. Memang terkait pembatasan jumlah penumpang dalam rangka social distancing, ini kami ada 2 opsi," ujarnya.

Meski demikian, Didiek mengungkapkan rencana kenaikan tarif kereta api ini masih belum diputuskan. Hanya saja, dia menjelaskan kenaikan tersebut karena mengantisipasi kerugian akibat pemberlakuan social distancing.

"Nah terkait dengan okupansi, memang dengan okupansi 50%, maka ya otomatis KAI kalau mengoperasikan itu akan tetap rugi, sehingga kami akan berkomunikasi kemungkinan untuk penaikan tarif," jelasnya.

"Apabila okupansi 50% ya ini seperti yang ada di pesawat udara, kemungkinan kami akan ajukan kenaikan tarif. Namun logikanya kenaikan tarif ini hanya untuk kereta jarak jauh saja. kalau untuk commuter relatif tetap," tambahnya.



Simak Video "Hingga H+4 Lebaran, KAI Telah Layani 2.227 Penumpang KLB"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/fdl)