Ekonomi AS Goyah, Trump Diprediksi Kalah Pilpres

Anisa Indraini - detikFinance
Sabtu, 23 Mei 2020 10:00 WIB
Obat virus corona: Trump konsumsi hidroksiklorokuin yang tidak terbukti keampuhannya untuk tangkal virus corona
Foto: BBC World
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diprediksi akan kalah telak dalam pemilihan presiden (Pilpres) pada November mendatang. Mengingat ekonomi AS yang gonjang-ganjing diterpa virus Corona (COVID-19).

Pengangguran melonjak pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengeluaran konsumen menghilang dan Produk Domestik Bruto (PDB) runtuh. Sejarah menunjukkan bahwa tren ekonomi yang mengerikan menjadi malapetaka untuk presiden tersebut terpilih kembali.

Oxford Economics memperkirakan resesi yang disebabkan oleh Corona akan menyebabkan Trump menderita dan menjadi kekalahan bersejarah pada November mendatang. Pihaknya pun telah merilis model pemilihan nasional.

Model tersebut menggunakan penilaian jumlah pengangguran, pendapatan yang dibuang dan inflasi untuk meramalkan hasil pemilihan umum (pemilu). Diperkirakan Trump akan kalah secara besar-besaran, hanya meraih 35% suara rakyat dan itu akan menjadi kinerja terburuk bagi seorang presiden dalam satu abad. Perkiraan itu berbanding terbalik dari prediksi model pra-krisis bahwa Trump akan memenangkan sekitar 55% suara.

"Butuh keajaiban ekonomi untuk mendukung Trump. Ekonomi akan menjadi penghalang yang hampir tidak dapat diatasi untuk Trump pada November mendatang," tulis Oxford Economics dalam laporan itu dilansir dari CNN, Jumat (22/5/2020).

Model itu sebelumnya dengan tepat memprediksi pemilihan umum di setiap pemilihan sejak 1948 selain 1968 dan 1976. Meskipun dua kandidat kalah dalam pemilihan umum tetapi memenangkan kursi kepresidenan dalam rentang itu, termasuk George W. Bush pada tahun 2000 dan Donald Trump pada tahun 2016.

Model pemilihan nasional mengasumsikan ekonomi masih dalam kondisi buruk dengan pengangguran di atas 13%, pendapatan per kapita riil turun hampir 6% dari tahun lalu dan periode singkat dari penurunan harga, atau deflasi.

"Ekonomi masih akan berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada di kedalaman Depresi Hebat," bunyi laporan Oxford Economics.



Simak Video "Jokowi: Ngeri, Dari Waktu ke Waktu Prediksi Ekonomi Dunia Makin Buruk"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)