PNBP dan Pajak Memble, Defisit APBN 2005 Capai 0,6-0,8 Persen
Selasa, 20 Des 2005 15:22 WIB
Jakarta - Defisit APBN 2005 diperkirakan mencapai 0,6-0,8 persen PDB. Sejumlah penerimaan negara ternyata tidak sesuai target, misalnya saja penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang hanya 66 persen dari target. Demikian pula penerimaan pajak yang meleset 1 persen.Angka defisit tersebut berarti lebih rendah dari prediksi awal APBN sebesar 0,9 persen PDB atau sekitar Rp 24,9 Triliun. "Jadi defisitnya lebih baik walau tidak sangat berbeda," kata Menkeu Sri Mulyani.Mantan direktur IMF ini menyampaikan hal tersebut usai melaporkan situasi tutup tahun APBN 2005 pada Presiden Susilo B. Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (20/12/2005).Saat Jusuf Anwar masih menjabat sebagai Menkeu, defisit APBN 2005 diperkirakan hanya mencapai 0,5 persen PDB dari target semula 1 persen. Turunnya defisit itu berkaitan dengan banyaknya proyek dan anggaran yang dialihkan ke tahun 2006."Mungkin ada beberapa dari sisi penerimaan yang tidak mencapai target dari pajak. Tapi tidak terlalu jauh, karena dalam dua bulan terakhir setelah kenaikan BBM ada sedikit pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi," ujar Sri Mulyani.Penerimaan negara yang paling besar melesetnya adalah dari PNBP. Sementara penerimaan pajak diprediksi sekitar 98,9 persen target. "Meleset 1 persen, tidak besar. Ini terutama penerimaan pada bulan november lalu yang agak menurun di luar perkiraan karena ada kenaikan BBM," ujarnya.Sementara dari sisi belanja, pengeluaran pemerintah sekarang masih 76,7 persen dari pagu yang ditargetkan, sehingga beberapa nanti memang akan diluncurkan pada 2006."Dengan situasi itu maka kita memperkirakan terutama karena adanya penerimaan negara bukan pajak agak turun dari yang kita perkirakan. Defisit 2005 untuk perkiraan hari ini akan mencapai sekitar 0,6-0,8 persen dari PDB," urai Sri Mulyani.Untuk membiayai defisit, pemerintah akan mengandalkan sumber-sumber pembiayaan dari dalam negeri seperti target penerbitan surat utang negara (SUN). "Juga penarikan pinjaman-pinjaman program yang cukup sesuai target bahkan melebihi sedikit," katanya.Sedangkan pinjaman proyek jumlahnya lebih kecil karena ada masalah seperti kesiapan proyek dan berbagai faktor lain.
(qom/)











































