Trump Hadapi Kenyataan Pahit, Pengangguran di AS Merajalela

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 24 Mei 2020 13:00 WIB
Presiden AS Donald Trump dorong acara tahunan G7 sebagai tanda normalisasi (AFP Photo/Pool)
Foto: Presiden AS Donald Trump dorong acara tahunan G7 sebagai tanda normalisasi (AFP Photo/Pool)
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir turut menekan perekonomian global. Termasuk ekonomi Amerika Serikat (AS) yang diprediksi akan mengalami kondisi terburuk.

Penasihat ekonomi senior di Gedung Putih Kevin Hassett mengungkapkan jika tingkat pengangguran di AS diprediksi akan melonjak. Pada April 2020 angka pengangguran di negeri yang dinakhodai Presiden Donald Trump itu tercatat 14,7% namun pada Mei diproyeksi naik 22% - 23%.

"Juni akan lebih tinggi," kata Hasset dikutip dari CNN Business, Minggu (24/5/2020).

Dia mengungkapkan nantinya kongres dan Presiden Trump akan menyetujui stimulus gelombang keempat untuk menyelamatkan perekonomian AS.


Stimulus ini akan membantu bisnis, pemerintahan dan masyarakat untuk melawan COVID-19.

Menurut dia, saat ini memang banyak pekerja yang menjadi pengangguran atau cuti tidak dibayar. Namun hal ini disebut akan berakhir dengan kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah.

Selain akibat pandemi, ekonomi AS memang mendapatkan serangan yang bertubi-tubi seperti kekhawatiran baru terkait perang dagang dengan Cina dan undang-undang keamanan baru yang ketat di Hong Kong, hal ini dapat mempengaruhi perekonomian.

"Cina juga jadi salah satu yang kami perhatikan untuk mempertimbangkan apa yang harus diambil," jelas dia.



Simak Video "WHO Ngarep Rujuk dengan Amerika Serikat"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/hns)