Pegawai BUMN, Dibaca 4 Skenario New Normal Erick Thohir

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 24 Mei 2020 14:06 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir
Foto: Menteri BUMN Erick Thohir (Achmad Dwi Afriyadi/detikcom)
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir meminta perusahaan pelat merah melakukan sejumlah langkah dalam rangka mengantisipasi skenario The New Normal. Sejumlah langkah yang diterapkan di antaranya membentuk task force penanganan dan menyusun protokol penanganan COVID-19.

Hal itu tertuang dalam surat edaran Erick yang ditujukan pada direktur utama BUMN. Deputi SDM, Teknologi dan Informasi Kementerian BUMN Alex Denni pun menjelaskan skenario new normal tersebut. Dia menjelaskan, dalam menyusun skenario biasanya diidentifikasi variabel-variabel yang paling tidak pasti dan paling berpengaruh. Dari situ, ada dua aspek, yakni kepastian penemuan vaksin dan perilaku masyarakat.

Dari dua aspek itu, maka muncul empat skenario. Pertama, death zone yakni kondisi di mana virus menyebar dengan cepat, vaksin belum ditemukan dan sistem perawatan medis tidak sanggup menanggulangi pasien yang jumlahnya melebih kapasitas. Sementara, perilaku masyarakat sangat abai terhadap protokol keselamatan dan kesehatan.

"Akibatnya apa? Orang doing business as usual, kontak fisik, salaman cipika-cipiki dan lain-lain dan ini tentu rentan. Biasanya ikutannya jumlah meninggal banyak, bisnis banyak yang bangkrut, PHK massal terjadi di mana-mana, pengangguran meningkat secara signifikan lingkungan tidak aman," katanya dalam teleconference, Senin lalu (18/5/2020).

Skenario kedua adalah new normal. New normal sendiri ialah kondisi virus masih ada, vaksin belum ditemukan. Namun perilaku disiplin dari masyarakat terhadap protokol keselamatan dan kesehatan membuat penyebarannya menjadi melambat, sehingga sistem perawatan rumah sakit bisa menangani jumlah pasien yang ada dengan baik.


Dampaknya, jumlah yang meninggal sedikit dan bisnis akan mencari cara-cara baru, produk baru, solusi baru yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan dalam dunia dengan peradaban dan budaya yang baru. Dia mengatakan, new normal bukan berarti kembali seperti kondisi normal sebelumnya.

"Dalam skenario 2 masyarakat terbiasa hal-hal baru seperti new normal 9-11. Dulu kalau ke bandara nggak pake buka gesper, sepatu. Setelah 9-11 itu menjadi new normal yang ke bandara harus lewat x-ray , harus buka tali pinggang, sepatu dan lain-lain," jelasnya.

Skenario ketiga yakni donkeyman, yaitu kondisi vaksin ditemukan dan perawatan medis bisa menanggulangi atau mengobati pasien COVID-19. Namun, perilaku masyarakat kembali abai terhadap aspek keselamatan dan kesehatan. Imbasnya, rumah sakit tetap ramai meski fatalitas akibat virus COVID-19 tidak tinggi.

Skenario keempat adalah longer life hope, yakni kondisi vaksin ditemukan dan sistem perawatan medis bisa menanggulangi atau mengobati pasien COVID-19. Masyarakat terbiasa melakukan kerja secara virtual dan remote, tidak lagi konvensional. Lalu, transformasi digital terjadi secara masif dan produktivitas meningkat secara signifikan.

"Dalam konteks inilah BUMN harusnya menjadi influencer dan role model segera menggerakkan masyarakat menuju new normal. Kenapa begitu? Karena BUMN menjadi lokomotif lebih sepertiga ekonomi kita. Kalau BUMN bergerak lokomotif bergerak mendorong ke new normal, maka mudah-mudahan segera masuk new normal dengan alamiah," jelasnya.

"Jadi saat ini kalau di awal terjadinya pandemi kita zona berbahaya. Saat ini sebagian masyarakat disiplin, sebagian lagi belum. Kalau kami identifikasi di pertengahan zona berbahaya dengan new normal," tutup Alex.



Simak Video " Ini Aturan New Normal bagi Karyawan"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/hns)