Inggris Terancam Resesi Ekonomi Terparah Dalam 3 Abad

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 27 Mei 2020 11:41 WIB
Dampak virus corona: Inggris kemungkinan besar alami resesi, angkatan kerja muda merasa kehilangan arah
Ilustrasi/Foto: BBC World
Jakarta -

Bank of England (BoE) meramal Inggris akan menuju kehancuran ekonomi terburuk dalam lebih dari 300 tahun akibat pandemi Corona (COVID-19). Saat ini jumlah kematian warganya akibat virus tersebut adalah yang tertinggi di Eropa.

Bukan karena Corona saja, keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) membuat negara tersebut semakin sulit untuk bangkit. Sebagaimana diketahui, Inggris resmi keluar dari UE pada 31 Januari 2020 lalu. Fenomena bersejarah ini dikenal dengan istilah Brexit (Britain Exit).

"Seluruh dunia bergerak melawan resesi karena virus Corona. Tetapi Inggris memiliki masalah tambahan dalam negosiasi dengan UE pada paruh kedua tahun ini," ujar Ekonom Senior dari Bank Berenberg, Kallum Pickering dikutip dari CNN, Rabu (27/5/2020).

BoE mengatakan ekonomi Inggris dapat menyusut 14% tahun ini. Hal itu akan menjadi kontraksi tahunan terbesar sejak penurunan 15% pada 1706, berdasarkan estimasi terbaik data historis bank. Produk Domestik Bruto (PDB) bisa turun 25% dalam tiga bulan hingga akhir Juni.

Data yang dirilis oleh pemerintah Inggris dalam beberapa hari terakhir lebih mengerikan. Klaim untuk tunjangan pengangguran melonjak 69% menjadi hampir 2,1 juta bulan lalu. Sementara inflasi pada bulan April turun tiga bulan berturut-turut menjadi 0,8%, hal ini meningkatkan kekhawatiran bisa merusak harga karena turun secara drastis.

Restoran dan toko-toko yang tidak penting tetap ditutup. Para ekonom tidak yakin bahwa aktivitas akan segera berjalan normal begitu dibuka kembali.

Mata uang Pound Inggris telah turun lebih dari 8% sejak awal tahun menjadi kurang dari US$ 1,22 dan juga telah jatuh lebih dari 5% terhadap mata uang euro. Indeks saham FTSE 100 (UKX) di London telah kehilangan lebih dari 21% (year to date/YTD) dibanding dengan hampir 9% untuk S&P 500, sedangkan saham FTSE 250 perusahaan menengah Inggris turun lebih dari 26%.

Menyiasati keterpurukan tersebut, pemerintah Inggris telah meminjam US$ 75,7 miliar pada bulan April, jumlah itu tertinggi sejak 1993 lalu. Pemerintah Inggris bahkan berencana mengajukan pinjaman lagi sebesar US$ 363,3 miliar hingga Maret 2021, hampir dua kali lipat dari catatan pinjaman setelah puncak krisis keuangan global.

Gubernur Bank of England, Andrew Bailey mengisyaratkan bahwa suku bunga resmi bisa menjadi negatif 0,1% untuk pertama kalinya dalam sejarah Inggris.

"Apa yang telah dilakukan Bank of England adalah menghapus kebijakan suku bunga. Jelas tarif negatif adalah salah satu resor terakhir di sini," katanya.



Simak Video "Strategi Baru Inggris Hadapi Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)