Corona Bikin 1 dari 6 Anak Muda Jadi Pengangguran

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 28 Mei 2020 11:34 WIB
BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2019 berada di level 5,01%. Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2018.
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) mengeluarkan analisis terbaru dampak virus Corona (COVID-19) terhadap jumlah tenaga kerja di dunia. Menurut ILO, gempuran Corona ini mengakibatkan 1 dari 6 anak muda di dunia kehilangan pekerjaannya atau jadi pengangguran.

"Analisis terbaru ILO mengenai dampak COVID-19 terhadap pasar kerja memperlihatkan imbas yang mengenaskan dan tidak proporsional terhadap pekerja muda," tulis keterangan resmi ILO dikutip detikcom, Kamis (28/5/2020).

Sementara, 1 dari 6 anak muda yang masih bekerja mengalami pemotongan jam kerja hingga 23%. Dari analisis ini, ILO mencatat korban paling banyak ialah anak muda perempuan.

"Kaum muda terkena dampak pandemi secara tidak proporsional, dan terjadi peningkatan yang besar dan cepat dalam pengangguran muda sejak bulan Februari yang lebih banyak mempengaruhi perempuan muda dibandingkan laki-laki muda," bunyi keterangan resmi ILO tersebut.

Pada tahun 2019, ILO mencatat tingkat pengangguran anak muda di dunia mencapai 13,6%, lebih besar dibandingkan kelompok lainnya. Sekitar 267 juta anak muda yang tidak dalam pekerjaan, pendidikan atau pelatihan di seluruh dunia. Anak muda berusia 15-24 tahun pada umumnya bekerja dengan upah rendah, pekerja sektor informal, dan pekerja migran.

"Krisis ekonomi akibat COVID-19 menghantam kaum muda, terutama perempuan, dengan lebih berat dan cepat dibandingkan kelompok lainnya. Jika kita tidak mengambil aksi yang signifikan dan segera memperbaiki situasi ini, imbas virus ini dapat kita rasakan beberapa dasawarsa ke depan," kata Direktur Jenderal ILO Guy Ryder dalam keterangan resmi tersebut.

Menurut Ryder, bakat dan energi anak muda ini harus segera dimanfaatkan, dan jika tidak maka imbasnya pada dunia akan lebih besar. "Ini akan membahayakan masa depan kita semua dan akan semakin sulit untuk membangun kembali perekonomian yang lebih baik pasca COVID-19," imbuh Ryder.

Analisis ILO juga mencatat lebih lanjut terkait penurunan jam kerja di kuartal I-2020 dan II-2020, dibandingkan dengan kuartal IV-2019. ILO memperkirakan 4,8% jam kerja hilang selama kuartal I-2020, atau setara dengan perkiraan 135 juta pekerjaan penuh waktu, dengan asumsi 48 jam kerja per minggu, angka ini mewakili sekitar 7 juta pekerjaan.

Dari perspektif regional, Amerika sebesar 13,1%, Eropa dan Asia Tengah 12,9% yang mewakili kehilangan terbesar jam kerja dalam kuartal II-2020. Dari analisis tersebut, ILO memprediksi jumlah pekerjaan yang hilang di kuartal II-2020 ini mencapai 305 juta orang.



Simak Video "Imbas Corona, Pengangguran Diprediksi Bertambah 5,23 Juta Orang"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)