Erick Thohir: Suka Tidak Suka New Normal Akan Panjang

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 28 Mei 2020 20:15 WIB
Ketua Umum KOI, Erick Thohir, saat memberikan keterangan terkait pengamanan penyelenggaraan Asian Games 2018, di Kantor KOI, Jakarta, Jumat (15/01/2016). Erik Thohir dengan tegas menyatakan kalau KOI dan 41 pengurus cabang olahraga di Indonesia sama sekali tidak terpengaruh dengan gangguan kecil yang sempat melanda Ibu Kota. Rengga Sancaya/detikcom.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bercerita lamanya memproduksi vaksin untuk virus Corona (COVID-19). Sebuah vaksin untuk bisa sampai ke masyarakat membutuhkan waktu sekitar dua tahun.

Lebih rinci dijelaskan, untuk menemukan vaksin sendiri butuh waktu satu tahun. Setelah ditemukan, butuh waktu produksi dan proses distribusi yang tidak kalah lama.

"Vaksin ini memang memakan waktu kuartal 1 dan kuartal 4 tahun depan. Jadi itu kalau ditemukan, jadi range-nya setahun. Jadi saya gali lagi kalau sampai diketemukan pun kan ada proses produksi nah itu lama juga. Setelah produksi ada proses distribusi, baru ada proses langsung di vaksin kan ke rakyat," kata Erick di kantornya, Kamis (28/5/2020).

Dengan lamanya kemunculan vaksin, membuat masyarakat harus bersabar menjalani era normal yang baru atau new normal dengan beraktivitas di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Era baru ini dinilai akan panjang.

"Jadi ini yang saya lihat, suka tidak suka new normal akan memakan waktu yang cukup panjang," imbuhnya.

Meski begitu, Erick menyebut ini merupakan kesempatan Indonesia untuk berdagang karena keunggulannya yang memiliki penduduk banyak dan sumber daya alam yang melimpah.

"Nah ini harus mulai kita punya blue print secara menyeluruh bagaimana Indonesia mulai berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) karena memang dengan proses yang dua tahun ini kesempatan kita mulai bangun," tegasnya.


Saat ini sendiri PT Bio Farma (Persero) sedang mengembangkan vaksin. Pihaknya bekerja sama dengan institusi dalam negeri seperti Eijkman, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balikbangkes), dan beberapa perguruan tinggi. Sedangkan dari luar negeri seperti Sinovac dari China, dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) yang bermarkas di Eropa.



Simak Video "Bagaimana Penerapan Skema New Normal di KRL?"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)