Soal Rencana 500 Pekerja China Masuk RI, Ini Penjelasannya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 28 Mei 2020 22:00 WIB
Sejumlah pabrik di China perlahan kembali buka dan beroperasi di tengah wabah virus corona. Para pekerja di pabrik itu sibuk beraktivitas dengan kenakan masker.
Ilustrasi pekerja China/Foto: AP Photo
Jakarta -

Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) buka suara soal kehadiran para tenaga kerja asing (TKA) asing China yang akan bekerja di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sebelumnya, ramai diperbincangkan soal 500 TKA China yang akan mengisi pekerjaan di pembangunan smelter di Konawe, Sultra.

Menurut Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jodi Mahardi pembicaraan yang berkembang di masyarakat menggiring opini publik seolah-olah TKA dimaksud akan menggeser para pekerja Indonesia. Padahal menurutnya, ratusan TKA ini dipanggil untuk membantu mempercepat pembangunan smelter dengan teknologi RKEF dari China.

Jodi menyebut bahwa TKA China ini hanya akan digunakan saat membangun smelter saja. Jumlahnya pun hanya sebagian kecil dari keseluruhan pekerja yang ada. Selebihnya, saat smelter sudah mulai beroperasi pekerja lokal yang digunakan di pabrik smelter.


Dia juga bicara soal pekerja asing yang sudah bekerja di Morowali dan Weda Bay. Jodi mengatakan TKA di sana pun tak seberapa jumlahnya dibanding dengan tenaga kerja lokal yang dipekerjakan.

Berikut ini pernyataan lengkap Jodi soal TKA China yang bekerja di pabrik smelter di Sulawesi:

Saya perlu menjawab pernyataan beberapa pihak mengenai kehadiran para TKA untuk pembangunan smelter di Indonesia, khususnya Konawe, Sulawesi Tenggara yang menggiring opini publik seolah-olah TKA dimaksud akan menggeser para pekerja Indonesia. Pernyataan yang bisa menimbulkan disinformasi dan keresahan di publik.

Mengapa? Saya akan bicara apa adanya saja. Rencana kehadiran 500 TKA China sekitar akhir Juni atau awal Juli adalah untuk mempercepat pembangunan smelter dengan teknologi RKEF dari China. Kita harus jujur bahwa dengan teknologi RKEF China mereka bisa bangun secara ekonomis, cepat, dan memiliki standar lingkungan yang baik. Teknologi ini juga menghasilkan produk hilirisasi nikel yang bisa bersaing di pasar internasional. Kenapa butuh TKA dimaksud? Karena mereka bagian dari tim konstruksi yang akan mempercepat pembangunan smelter dimaksud. Setelah smelter tersebut jadi, maka TKA tersebut akan kembali ke negara masing-masing. Pada saat operasi, mayoritas tenaga kerja berasal dari lokal.

Apa buktinya? Saya ambil contoh di IMIP yang ada di Morowali yang saat ini mayoritas sudah beroperasi secara penuh, walaupun masih ada sedikit progress pembangunan fasilitas hilirisasi nikel yang sedang dikembangkan. Jumlah tenaga kerja lokal saat ini adalah 39.500 sementara yang TKA ada 5.500. Jadi jumlah TKA kira-kira 12% dari total pekerja, saya yakin jika proses pembangunan smelter yang baru sudah selesai jumlahnya pun akan turun.

Di Weda Bay, yang saat ini sebagian besar masih dalam fase konstruksi, jumlah tenaga kerja adalah 8.900 orang, dengan tenaga kerja lokal sebesar 7.700 dan TKA 1.200. Itupun tenaga kerja lokal masih jauh lebih banyak.

Contoh lain, Di Kawasan industri Virtue Dragon di Konawe, yang kemarin sedang diributkan, jumlah tenaga kerja seluruhnya adalah 11.790 orang , dengan komposisi 11.084 tenaga kerja Indonesia dan 706 TKA China. Jadi kalau nambah 500 TKA untuk mempercepat progress konstruksi agar cepat beroperasi sehingga tenaga kerja lokal bisa lebih banyak diserap, apakah hal itu suatu yang salah? Jadi TKA yang datang ini bukan malah mengambil pekerjaan dari tenaga kerja lokal, tapi justru untuk mempercepat penyerapan tenaga kerja lokal, karena ketika sudah mulai beroperasi, tenaga kerja lokal akan mayoritas.

Penciptaan lapangan kerja adalah prioritas utama dari Pemerintah, jangan dibalik-dibalik dengan informasi yang menyesatkan. Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2