Hampir 3 Bulan Mal 'Merana' Karena Corona, Bagaimana Nasib Pegawai?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 29 Mei 2020 12:08 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) mengakibatkan operasional pusat-pusat perbelanjaan tak bisa berjalan normal. Utamanya di wilayah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), mal-mal hanya diizinkan beroperasi terbatas, yakni untuk melayani kebutuhan sehari-hari, toko swalayan, farmasi, dan layanan Food and Beverage (F&B).

Hal ini berdampak besar pada pendapatan para pengelola dan juga penyewa atau peritel di mal. Sudah hampir 3 bulan, gempuran Corona menyebabkan para pengusaha merana.

"Sejak Maret, sejak Bapak Presiden mengumumkan COVID-19 ada di Indonesia, traffic turun, langsung drop. Apalagi ada imbauan menjaga jarak dan diam di rumah, itu semakin drop lagi," kata Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja kepada tim Blak-blakan detikcom, Kamis (28/5/2020).

Secara keseluruhan, ada 326 mal di Indonesia yang tercatat sebagai anggota APPBI. Dari jumlah tersebut, hampir setengahnya berjuang dengan operasional terbatas di tengah pandemi Corona.

"Selama 3 bulan ini kondisi ini benar-benar sangat berat," tutur dia.

Ia menerangkan, secara keseluruhan ada 271.091 pegawai yang bekerja di mal-mal. Dengan kondisi ini, pengusaha terus berupaya mempertahankan pekerjaan para karyawan.

"Selama tutup ini kan tidak ada penghasilan, tapi ada biaya tetap yang harus dikeluarkan, contohnya gaji pegawai. Kami berusaha supaya tidak ada PHK. Artinya kan harus dibayar gajinya. Jadi tidak ada pendapatan, tapi ada pengeluaran," jelas Alphonzus.

Untuk mempertahankan pegawai, menurut Alphonzus antara pengelola dengan penyewa sedang bernegosiasi untuk membahas keberlangsungan kedua pihak. Pasalnya, dengan kondisi ini para penyewa tentunya tak mampu membayar sewa gerai di mal, namun para pengelola pun turut merana dengan tak adanya pemasukan.

"Kerugian saat ini kalau kita hitung-hitung pusat perbelanjaannya ini kan dapat penghasilan dari penyewa, retailer, kemudian dari service charge. Nah ini boleh dibilang praktis selama hampir 3 bulan, kami tidak bisa menagih ke mereka karena mal tutup. Nah ini negosiasi yang sedang kami lakukan dengan para penyewa untuk mencari solusi," paparnya.

Adapun hal yang didiskusikan salah satunya adalah kelonggaran penundaan pembayaran biaya sewa.

"Kita bantu dengan menunda pembayarannya. Ditunda dulu, negosiasinya tunggu nanti ketika wabah COVID-19 selesai. Tetapi paling tidak, tidak membebani cashflow para penyewa," tandas Alphonzus.



Simak Video "Daftar 80 Mal di Jakarta yang Mulai Buka Besok"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)