New Normal Bisa Redam Gelombang PHK, Yakin?

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 29 Mei 2020 13:49 WIB
Ribuan pencari kerja memadati Bursa Kerja di gedung Smesco, Jakarta, Jumat (08/01/2016). Bursa Kerja yang berlangsung hingga 9 Januari 2016 ini memberi kesempatan bagi pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Grandyos Zafna/detikcom
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pemerintah meyakini era kehidupan normal baru atau new normal bisa menekan bertambahnya korban pemutusan hubungan kerja (PHK) imbas pandemi COVID-19. Namun Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet hal itu tidak otomatis membuat angka PHK berkurang.

"Saya lihat memang dia belum akan secara optimal misalnya mengurangi angka PHK," kata dia saat dihubungi detikcom, Jumat (29/5/2020).

Dia memperkirakan dampak positif dari era normal baru akan benar-benar terasa di kuartal IV-2020, dengan catatan itu mulai diterapkan pada Juni mendatang.

"Sebenarnya kalau kita melihat tahapannya memang dia tidak akan secara serta merata berbalik ya akan langsung menjadi normal. Saya kira akan bertahap prosesnya. Kalau memang benar dilakukan di bulan Juni, saya pikir proses secara keseluruhan pemulihannya itu mungkin baru akan terasa di kuartal keempat," jelasnya.

Terlebih lagi stimulus yang telah digelontorkan pemerintah menurutnya belum merata dirasakan oleh banyak pelaku usaha. Misalnya saja stimulus restrukturisasi kredit di perbankan. Tidak semua pelaku usaha dapat menikmatinya.

"Sehingga dengan kondisi demikian, PHK yang terjadi di kuartal kedua, banyak terjadi di kuartal kedua ini memang tidak akan serta merta berhenti kalau saya lihat, karena ini prosesnya bertahap. Jadi itu sih sebenarnya, dia tidak akan serta merta berhenti untuk terjadinya PHK," ujarnya.

Berlanjut di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video " Ini Aturan New Normal bagi Karyawan"
[Gambas:Video 20detik]