RI Tidak Butuh Impor Beras 2006
Kamis, 22 Des 2005 15:08 WIB
Jakarta - Agar tidak kecolongan lagi, jauh-jauh hari Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono mengingatkan bahwa Indonesia tidak perlu impor beras lagi di awal tahun 2006.Meski masa panen padi baru berlangsung Maret 2006, kebutuhan konsumsi sebelum panen masih bisa dicukupi dari persediaan yang ada saat ini.Menurut Anton, meski di tahun 2005 ada defisit beras sebesar 25 ribu ton, tapi sebenarnya masih tersedia beras di masyarakat 2,4 juta ton.Perinciannya beras limpahan (carry over) 2004 sebanyak 1,7 juta ton dan 700 ribu ton beras Bulog yang dilempar ke pasar."Pendapat kami masih tetap tidak perlu impor, namun pembahasan tentang impor lanjutan beras akan dibahas di Menko Perekonomian pada 27 Desember, setelah itu hasilnya diajukan ke presiden," kata Anton di Gedung Departemen Pertanian, Jalan Ragunan, Jakarta, Kamis (22/12/2005).Untuk persediaan beras selanjutnya, menurut Anton, saat ini sedang dikaji opsinya dengan memprioritaskan pembelian dari dalam negeri, sehingga Bulog dimungkinkan membeli dari petani.Harga pembelian pemerintah (HPP) kepada petani mulai 1 Januari 2006 akan dinaikkan. Berdasarkan Inpres Nomor 13 Tahun 2005, HPP untuk gabah kering giling (GKG) yang saat ini Rp 1.730 per kilogram naik menjadi Rp 2.289 per kilogram pada awal 2006.Sedangkan HPP gabah kering panen (GKP) naik dari Rp 1.325 per kilogram menjadi Rp 1.730 per kilogram.Anton menjelaskan, pada bulan Maret 2006, panen padi akan menghasilkan beras 5 juta ton. Sedangkan konsumsi sebesar 2,5 juta ton yang artinya ada kelebihan 2,5 juta ton."Kalau Bulog aktif mestinya mampu menyerap 2,5 juta ton tersebut," ungkap Anton.Sebelumnya Dirut Bulog Widjanarko Puspoyo mengatakan, untuk musim panen 2006, pihaknya akan menyerap beras petani sebanyak 2 juta ton.Bulog menyatakan bersedia membeli beras petani dengan syarat harganya tidak naik atau sama seperti tahun ini Rp 1.760 per kilogram untuk GKG.
(ir/)











































